Jumat, 29 Juni 2012

Duka Bersama Accident Fokker 27

Oleh: TNC


Dengan segenap rasa duka setelah terjadinya accident pada pesawat Fokker 27, Panglima tertinggi di Negara ini, yang sedang berada diberada di Rio de Janeiro, Brazil, guna mengikuti KTT Rio+ 20 , menyatakan untuk penghentian pengoperasian pesawat Fokker 27 demi ketenangan rakyat. Sebuah duka mendalam bagi kita bersama khususnya keluarga besar TNI AU. Ada beberapa hal tentunya yang harus kita renungkan dengan peringatan alam dan peringatan Tuhan kepada kita sekalian. Karena pengorbanan rekan-rekan kita tersebut harus menghasilkan sebuah perubahan dalam organisasi perang kita yang siap operasional mempertahankan kedaulatan di udara.
                Sering kita mendengar konsep dan prinsip bahwa tidak ada istilah pesawat tua dalam dunia penerbangan. Pertanyaannya adalah apakah hal ini berlaku bila tahapan penggantian spare dan perawatan dilaksanakan dengan tidak ideal ? Sepertinya kita harus jujur pada diri masing – masing untuk menilai sejauh mana konsep dan prinsip ini kita pegang teguh.
                Salah satu point teratas dari Road Map to Zero Accident adalah comment and commitment dimana konsistensi dan komitmen harus dipegang teguh mulai dari lapisan teratas menuju ke bawah “top to bottom” dan juga sebaliknya “bottom up”. Saya yakin bahwa point ini ditaruh pada urutan pertama bukan tanpa alasan. “Starting point where we need to pay attention”.
                Antara kualitas dan kuantitas merupakan sebuah pilihan sulit bagi operator. Kalau disuruh pilih operator pasti akan meminta alutsista yang berkualitas dan berkuantitas. Berkualitas dalam arti modern dan memenuhi standar kelayakan tinggi , berkuantitas dalam arti jumlah banyak untuk menunjang jam terbang sebagai prasyarat profesionalisme.
                Peremajaan alutsista selalu terganjal dengan anggaran TNI yang sangat minim, sehingga harus ada konsep “minimum essential force”. Kalau mencermati besaran kasus korupsi yang sedang gencar digeluti oleh KPK sepertinya bukan masalah Negara kita tidak punya uang tapi lebih kearah kurangnya kesadaran arti penting kekuatan militer sebagai penunjang eksistensi dan perekonomian bangsa.
                Akhirnya sebagai generasi muda , kita harus tetap berjuang, belajar, dan loyal terhadap kebijakan pimpinan setelah terjadinya accident ini. Kita sangat yakin bahwa pimpinan kita adalah orang-orang pilihan yang mempunyai tingkat profesionalisme dan analisa yang tajam dalam menyikapi musibah ini agar tidak akan pernah terulang lagi demi kejayaan TNI AU.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar