Kamis, 28 Juni 2012

TNI AU dan USAF Bersatu Dalam Sebuah Misi Penyelematan Survivor

TNI AU dan USAF Bersatu Dalam Sebuah Misi Penyelematan Survivor
Oleh: Kapten Pnb Taufik Nur Cahyanto, S.T

“Berdasarkan Laporan  yang diterima, pesawat TNI AU CN 235MP yang sedang melaksanakan tugas pengintaian di daerah malang,  mengalami crash dan sampai dengan saat ini baik pesawat maupun crew masih belum diketahui secara pasti dimana berada. Informasi Awal yang diterima adalah pesawat tersebut jatuh di sekitar landasan perintis di pedalaman daerah Malang yang saat ini sedang di kuasai kelompok radikal kanan yang dipimpin oleh “Muhammad Reza”. Dilaporkan kelompok kanan tersebut telah melaksanakan tindakan anarkhis dan memblokade bantuan dukungan logistic dari pemerintah pusat untuk membantu masyarkat malang sekitarnya pasca bencana alam gempa bumi 6,5 SR yang telah menghancurkan sarana dan prasarana daerah Malang sekitarnya.”

            Berbeda dengan konsep latihan bersama dengan negara lain yang telah dilaksanakan sebelumnya, demikian sekilas skenario Latihan bertajuk Teak Iron 2011 yang diikuti oleh Skadron Udara 32, Batalyon Paskhas 464, Denbravo, POM AU dan 353 SOG dari US Air Force yang dilaksanakan sejak tanggal 27 Juni 2011 sampai dengan 8 Juli 2011 di Lanud Abdulrachman Saleh. Sengaja dalam latihan kali ini Komando Latihan yang di kendalikan oleh kedua belah pihak membuat skenario latihan yang se real dan sesuai dengan kondisi serta contingency yang mungkin dapat terjadi pada negara kita. Dasar pemikiran yang di usung dalam latihan bersama ini adalah adanya kerja sama antara dua kekuatan udara yang mengoperasikan pesawat C-130 sebagai kekuatan Air Support dalam konsep operasi udara dalam kondisi damai maupun perang. Komandan Wing 2 Lanud Abdulrachman Saleh Kolonel Pnb Eko Dono Indarto selaku direktur latihan dengan dibantu oleh staf perencana latihan Mayor Pnb Reza Ranesa bekerja sama dengan Exercise Director dari US Air Force telah merencanakan sebuah latihan yang menggabungkan konsep operasi gabungan antara dua negara yang cukup aplikatif dan edukatif bagi peningkatan profesionalisme anggota TNI AU. Latihan dibuka oleh Komandan Lanud Abdulrachman Saleh Marsekal Pertama A. Dwi Putranto dalam sebuah upacara pembukaan di taxy way Skadron Udara 32.


Phase Latihan
            Sesuai dengan babakan latihan bertingkat, bertahap dan berlanjut , Latihan bersama ini diawali dengan kegiatan classical yang terdiri dari Capabilities Brief, Subject Matter Expert Exchange (SMEE), Survive Evasion Resistance Escape (SERE), Tactical Combat Casualty Care atau First Aid Under Fire, CASEVAC, Building Sweep, Airfield establishment , Night Vision Google (NVG), Low Level Formation Flight’s theory dan Mission Planning. Kegiatan classical ini bertujuan untuk memberikan podasi kesamaan pola pikir, sharing informasi dalam pengoperasian pesawat C-130 Hercules dalam kegiatan operasi dukungan udara pada masing-masing negara, serta memberikan wawasan bagi awak pesawat dan crew pendukung dalam merencanakan sebuah operasi.  Pada kegiatan tersebut masing-masing skadron memaparkan kemampuan dan peran yang mampu diberikan dalam sebuah contingency negara masing-masing. Lebih jauh lagi setelah saling bertukar pengalaman dan kemampuan, masing – masing skadron mulai mendiskusikan dan selanjutnya mempraktekkan konsep operasi yang melibatkan personel dan pesawat kedua belah pihak dalam melaksanakan kegiatan operasi dukungan udara.
            Setelah kegiatan classical, kegiatan latihan dilanjutkan dengan kegiatan penerbangan yang terdiri dari familiarization area Low level Flight, Personnel Drop (Static Line, HALO, HAHO), Cargo Drop (CDS/ Container Delivery System, SATB),Static Rapid Day and Night, Formation Flight, Low Level NVG night Flight, Formation NVG Night Flight.

VPE (Verification Planning Exercise)
            Seluruh kegiatan classical maupun kegiatan penerbangan yang telah dilaksanakan bermuara pada sebuah kegiatan gladi posko untuk nantinya akan dilatihkan pada gladi lapang. VPE (Verification Planning Exercise) adalah sebuah kegiatan perencanaan latihan yang dilaksanakan secara bertahap mulai dari perencanaan Aircraft Commander atau Captain Pilot, kemudian dilanjutkan paparan kepada Komandan Skadron (Squadron Back Brief), paparan kepada Komandan Wing (Wing Commander Rock Drill) dan diakhiri dengan TAMG (Tactical Air Maneuver Game). Skenario latihan diawali dengan paparan perkembangan situasi yang diberikan oleh staf intelejen bahwa pasca bencana alam gempa bumi 6,5 SR yang telah menghancurkan infrastructure di daerah malang dan sekitarnya mengakibatkan kelompok radikal kanan yang dipimpin oleh Muhammad Reza telah berkembang di beberapa daerah termasuk di sekitar wilayah landasan perintis “wara”. Beberapa tindakan anarkhis yang telah dilaksanakan membuat aliran bantuan dari pemerintah pusat di monopoli dan dikuasai oleh gerakan tersebut. Setelah Presiden RI menyatakan kontigency Nasional untuk mengadakan operasi penumpasan, rangkaian kegiatan diawali oleh kegiatan pengintain strategis yang dilaksanakan dengan menggunakan pesawat intai CN-235 MP. Dalam skenario latihan dilaporkan pesawat CN-235 MP mengalami engine failure yang mengakibatkan pesawat crash dan jatuh di sekitar landasan pacu perintis yang di asumsikan dengan menggunakan run way Lanud Abdulrachman Saleh. Di laporkan 2 awak pesawat masih hidup dan dalam tawanan kelompok separatis pimpinan Muhammad Reza. Selanjutnya, misi yang harus dilaksanakan adalah operasi pembebasan sandera dengan menerjunkan gabungan pasukan khas TNI AU dan USAF guna membebaskan sandera serta mengevakuasi korban yang dimungkinkan masih hidup. Berdasarkan skenario tersebut, Aircraft commander atau Captain Pilot membuat perencanaan bersama pasukan khas TNI AU, Special Tactic Squadron (STS)  dan Flight Surgeon. Setelah planning disusun baru diadakan paparan di depan komandan skadron serta dilanjutkan kepada Komandan Wing untuk mendapatkan persetujuan dan analisa pertimbangan berdasarkan faktor strategy, tactic dan safety. Dalam rangkaian kegiatan tersebut timbul interaksi yang cukup baik, dimana semua level dan bagian dapat berlatih untuk merencanakan suatu analisa keterlibatan yang nantinya akan mereka perankan dan latihkan dalam gladi lapang.


Field Training Exercise (FTX)
            Berdasarkan kegiatan VPE diputuskan operasi didukung dengan 4 pesawat C-130 Hercules terdiri dari 3 pesawat melaksanakan penerjunan static, air landed, dan Evakuasi Medis Udara dan 1 pesawat sebagai pesawat (Airborne Mission Commander). Dalam kegiatan ini TNI AU melibatkan 2 pesawat C-130 B/H dan USAF melibatkan 2 pesawat MC-130P.  Babakan latihan diawali dengan penerjunan 30  pasukan paskhas dan 4 personel Special Tactic Squadron (STS) yang terbagi pada 3 formasi pesawat. Tidak lupa 12 Flight surgeon on board dibagi pada 3 pesawat tersebut untuk standby melaksanakan evakuasi medis udara.
            Pukul 08.00 wib keempat pesawat take of berturut – turut melaksanakan Low level flight formation menuju holding point yang telah ditetapkan untuk selanjutnya menunggu instruksi dari Airborne Mission Commander yang terus berkoordinasi dengan komandan Wing yang berada di ruang operasi. Setelah mendapatkan informasi dari intelejen, Komandan Wing memberikan clearance kepada Airborne Mission Commander untuk melaksanakan dropping Ground Forces team yang terdiri dari 20 personel paskhas dan 4 personel STS yang mempunyai tugas pencarian dan penyelamatan survivor serta penyiapan  dan pengamanan landasan pacu untuk airlanded. Pasukan yang diterjunkan dengan ketinggian 1000 feet AGL segera melaksanakan tugas sesuai dengan misi masing-masing. Dalam waktu 45 menit ground forces yang di komando oleh Kpt Psk Roni Cahyo melaporkan kepada Airborne mission commander bahwa survivor telah dapat diselamatkan dan landasan pacu telah siap untuk di darati pesawat Hercules guna mengevakuasi pasukan dan survivor. Segera secara berturut 3 pesawat melaksanakan airlanded dan membawa seluruh pasukan dan survivor meninggalkan daerah operasi. Selama perjalanan menuju ke home base diatas pesawat Flight Surgeon mengadakan praktek penanganan terhadap survivor dan pasukan paskhas yang terluka dalam baku tembak pembebasan sandera.
Akhirnya pesawat landing dan dilanjutkan dengan kegiatan latihan Survival, Evasion, Resistance and Escape (SERE). Air crew diskenariokan harus landing di sebuah aerodrome yang tidak aman sehingga mereka harus menyelamatkan diri dan mempertahankan hidup di daerah musuh. Selama kurang lebih 4 jam para awak pesawat mengatasi berbagai masalah yang diskenariokan dan akhirnya mampu menuju titik aman “Behind the enemy’s line” dan akhirnya dapat diselamatkan oleh kekuatan kawan.

Donation and Go green activity
            Satu hal lagi nilai yang cukup positif dalam latihan ini, kedua angkatan udara ini dipersatukan dalam sebuah kegiatan sosial memberikan bantuan alat pendidikan dan alat olah raga kepada yatim piatu dan warga kurang mampu di sekitar Lanud Abdulrachman Saleh. Personel dari 353 Special Operation Group sengaja menyiapkan dan membawa  sarana olah raga dan belajar dari kemampuan mereka untuk berbagi terhadap sesama. Dengan kegiatan kebersamaan  ini terlihat bahwa setiap manusia mempunyai kesamaan nilai sosial yang bersifat universal.
            Terlepas dari kegiatan bertukar kemampuan dalam menunjang profesionalisme sebagai anggota militer, kegiatan penanaman pohon kenangan sebagai symbol persahabatan dan pembangkitan kesadaran arti penting menjaga lingkungan hidup dilaksanakan di taman Skadron Udara 32. Lanud Abdulrachman Saleh sebagai Lanud yang menjunjung tinggi  program  “Go green” dan ramah lingkungan ingin memanfaatkan moment kebersamaan untuk kembali mengingatkan kita akan arti penting Lingkungan hidup.

Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan upacara penutupan yang dilaksanakan di ruang kelas Skadron Udara 32. Semoga Latihan bersama dengan Negara lain akan tetap dilaksanakan dengan sebuah kerangka peningkatan profesionalisme anggota TNI Angkatan Udara yang siap untuk mempertahankan NKRI dan menjadi the “FIRST CLASS AIR FORCE”.

“SWADYAYAJNANA ANURAGA BHAKTI NAGARA”
           
            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar