Jumat, 27 Juli 2012

Herky69: WACANA STRATEGI ASSIMETRIC WAR UNTUK PAPUA TERC...

Herky69: WACANA STRATEGI ASSIMETRIC WAR UNTUK PAPUA TERC...: WACANA STRATEGI  ASSIMETRIC  WAR  UNTUK PAPUA TERCINTA… by: TNC Sekedar sebuah unek-unek pribadi yang tulus atas sebuah nilai kecin...

WACANA STRATEGI ASSIMETRIC WAR UNTUK PAPUA TERCINTA…

WACANA STRATEGI  ASSIMETRIC  WAR  UNTUK PAPUA TERCINTA…
by: TNC

Sekedar sebuah unek-unek pribadi yang tulus atas sebuah nilai kecintaan terhadap bangsa (nasionalisme) penulis, tentang merebaknya deteriorating circumstance di wilayah papua. Perlu kiranya kita bersama menentukan smart thinking yang terkemas dalam sebuah konsep , untuk menggunakan smart power dalam menghadapi isu disiintegrasi wilayah maupun pemerintahan yang mulai merebak di wilayah papua.

Pemahaman tentang konsep assimetric dalam hal ini tidak perlu kita bawa ke dalam konsep perang. Karena sesungguhnya apapun alasannya, bila perang telah terjadi maka menunjukkan kegagalan besar dalam hal problem solving. Dan tentunya yang terpenting tidak ada “perang yang menyenangkan”. Penulis ingin sekedar mengejawantahkan konsep assimetric war dalam kerangka strategi menghadapi potensi gerakan separatis dan gejala disintegrasi di wilayah papua yang secara resmi menjadi bagian dari NKRI. Sungguh naïf bila momentum referendum muncul di bumi Papua karena selama ini kita sedang tertidur lelap dan mabuk kepayang oleh gemerlap demokrasi yang disibukkan oleh kegiatan kampanye Capres, cawapres, cabup, atau mungkin calon kepala desa.

Konsep assimetric yang dimaksud adalah penggunaan kekuatan nir militer untuk merebut kembali rasa nasionalisme rakyat papua terhadap NKRI dengan sebuah usaha damai, smart power, irreguler, non tradisional ataupun provincial reconstruction team (PRT). Konsep ini pun telah menjadi trend dunia dalam konsep pertahanan bahkan menjadi bentuk strategi invasi modern. 

Alasan pokok kenapa penggunaan kekuatan militer (simetris) dalam methode kolonial kini sudah mulai ditinggalkan untuk mengatasi gerakan separatis, ialah besarnya biaya hard power tetapi hasilnya tidak signifikan atau bahasa jawanya “ora sumbut”. Contoh riil saat invasi NATO dengan berbekal resolusi PBB Nomor 1973 tentang No Fly Zone di Libya dimana hasil operasi tidak sesuai harapan. Artinya NATO hanya mampu merampok harta Libya yang di luar negeri berkedok pembekuan aset-aset Gaddafi, tetapi belum mampu menguasai teritorial. Bahkan pemerintah sementara (NTC) Libya bentukan asing pun seperti gagal mengendalikan negeri yang porak-poranda dilanda perang tersebut. Sementara biaya yang dikeluarkan untuk memantau resolusi No flying Zone dengan menerbangkan beberapa pesawatnya memerlukan cost yang cukup besar.

Selain daripada itu pola asimetris dikenal lebih murah tetapi cukup handal. Dalam medan asimetris misalnya, tidak diperlukan prajurit pilih tanding seperti Rambo, atau kekar seperti Kolonel Braddock, Superman dan lainnya, cukup melalui sosok kurus di belakang meja tetapi mampu mengacak-acak jaringan komunikasi atau sistem informasi negara lain, mengadu-domba elemen masyarakat di negara target, atau membuat hancur pilar-pilar ekonomi negara sasaran dan lainnya. http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=8616&type=4

Belajar dari penerapan beberapa konsep asymmetric yang diterapkan Negara maju saat ini ada beberapa hal yang dapat kita terapkan untuk menghadapi ancaman gerakan separatis dan gejala diistengrasi di wilayah Papua. Ada beberapa hal yang sekiranya mendapat perhatian bagi kita seperti Penguasaan Informasi, Penguatan ekonomi, Penggalangan tokoh adat dan agama, pemerataan pembangunan Infrastructur serta Gerakan Indonesia cinta papua. 

Selasa, 03 Juli 2012

BERSAMA HERKY MENYERBU DARI LANGIT……
Oleh :
(Kapten Pnb Taufik Nur Cahyanto, S.T)










“ Awan rendah dengan secercah rona sang mentari  yang mulai muncul menyinari pagi nan sunyi di daerah Dumai mendadak berubah menjadi  gemuruh suara formasi 9 pesawat Hercules yang datang secara tiba-tiba dengan menerjunkan 416 personel  Satuan Tempur Kostrad dan pasukan dallan dari paskhas TNI AU serta 9 bundles barang  berupa senjata ringan dan amunisi ”
               
                TNI Angkatan Udara kembali membuktikan dan mempertanggung jawabkan diri kepada rakyat Indonesia dengan menunjukkan kemampuan angkutan udara bergerak menuju sasaran dengan 9 pesawat C-130 Hercules guna mendukung Subkogasgab Linud yang akan menggelar Operasi Linud pada sasaran di daerah Dumai terkemas dalam Latihan Gabungan TNI 2011. Keberhasilan dalam kegiatan Latihan Gabungan kali ini merupakan tolak ukur serta parameter kesiapan personel dan alutsista TNI Angkatan Udara sebagai hasil pembinaan satuan yang telah dilaksanakan dalam kurun  waktu 1 tahun. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya kita terus berupaya mengevaluasi dan mencermati untuk menjadi lebih baik.

  Tahap Persiapan
                Kegiatan Latihan gabungan yang bertajuk LATGAB TNI 2011 diawali dengan direktif Panglima yang selanjutnya dijabarkan oleh satuan bawah dengan menganalisa tugas pokok guna mendapatkan Cara Bertindak (CB) yang paling efektif dan efisien dalam rangka mendukung tugas pokok Komando Tugas Gabungan (KOGASGAB) yang di jabat oleh Pangdiv 2 Kostrad. Dalam hal ini Dan Subkogasud yang dijabat oleh Komandan Wing 2 Lanud Abdulrachman Saleh , Kolonel Pnb Eko Dono Indarto, SIP segara menyiapkan Rencana Operasi yang memuat seluruh rencana pelibatan dan rencana gerak dari tiap – tiap Satlakopsud  dan Unsur – unsur yang terlibat. Setelah melalui mekanisme pengambilan keputusan dalam gladi posko yang dilaksanakan selama empat hari di Madiv 2 Kostrad, maka Unsur Angkut mempunyai tugas untuk melaksanakan operasi dukungan udara; Penerjunan satpur linud , barang dan pasukan dallan di sasaran daerah Dumai pada time over target (TOT) 06.00 WIB dilanjutkan dengan misi eselon susulan Air Landed pada jam 08.00 WIB di bandara Pinang Kampai. Berdasarkan perencanaan tersebut, Unsur Angkut menggelar latihan pendahuluan di lanud Abdul Rachman Saleh guna mencapai sasaran yang diinginkan dengan memegang teguh Safety dengan tanpa menurunkan parameter kemampuan teknis yang di miliki oleh crew maupun pesawat C-130 Hercules. Latihan formasi 9 pesawat C-130 Hercules dilaksanakan dengan sukses dan selanjutnya siap untuk menggeser peterjun dan perlengkapan operasi menuju ke pangkalan aju Lanud Halim Perdana Kusuma.

Bergerak Menuju Pangkalan Aju
                Seluruh peterjun sebanyak 416 personel on board di 9 pesawat bergerak menuju pangkalan aju, Lanud Halim Perdana Kusuma pada hari H-1. Selanjutnya kegiatan di pangkalan aju di dahului dengan Mass Brief yang dipimpin oleh Komandan Unsur Angkut yang dijabat oleh Komandan Skadron Udara 32 Letkol Pnb M. Arifin, dengan dihadiri oleh Komandan Lanud Halim Perdana Kusuma, Dan Subkogasud, Dan Subkogasgab Linud dan seluruh personel pendukung operasi. Koordinasi akhir dalam briefing tersebut pada dasarnya dilaksanakan untuk check, re-check and final check dalam rangka memastikan seluruh personel memahami secara pasti apa , dimana dan kapan mereka berbuat tanpa ada sedikit keraguan pun. Tepat pada pukul 00:45 WIB kegiatan Serial Lead Brief dimulai. Seluruh awak pesawat dan pendukung sudah siap di Gedung Jalalludin Tantu Skadron Udara 31 untuk mendengarkan paparan dari Flight leader Herky Flight yang direncanakan akan take off pada pukul 02:54 WIB. Secara detail awak pesawat mempaparkan rencana gerak dengan segala antisipasi kemungkinan-kemungkinan terjadinya hal –hal yang tidak diinginkan. Berbagai antisipasi disiapkan dengan prinsip bahwa misi harus dapat didukung dengan tanpa mengabaikan keselamatan terbang dan kerja.

Bulan Bersahabat Meski Awan Kurang Bersahabat
                Berdasarkan laporan petugas meteo dalam serial lead brief yang dilaksanakan pada dini hari sebelum pesawat take off menuju sasaran disampaikan bahwa cuaca cukup baik untuk mendukung kegiatan penerbangan. Dengan penuh percaya diri 9 pesawat melaksanakan start engine dalam rangkain formasi. Tanpa diduga pesawat no2 melaporkan bahwa engine no 2 negatif rotation. Dengan pertimbangan waktu yang cukup mendesak, Flight Leader langsung memerintahkan untuk peterjun geser menuju pesawat cadangan yang saat itu juga telah melaksanakan start engine secara bersama-sama. Meski Formasi flight dengan call signHerky Flight” melaksanakan take off 8 pesawat namun setelah 20 menit berikutnya 1 pesawat cadangan mampu menyusul dan bergabung memperkuat menjadi 9 pesawat. Di bawah sinaran bulan yang cukup cerah Herky Flight terus bergerak maju meski perlahan awan kurang bersahabat dengan kita. Meski leader telah berusaha mengarahkan rute yang paling efektif , efisien dan aman beberapa kali formasi flight harus berjuang di tengah kondisi perawanan yang kurang bersahabat. Perjuangan keras dalam keeping formation akhirnya dijawab dengan kilau rembulan yang muncul pada jarak kurang lebih 40 Nm dari Pekanbaru. Sinar rembulan yang merona membuat suasana menjadi sedikit tenang karena sillouet pesawat semakin jelas terlihat sehingga masing –masing pesawat dapat segera mendekat.

Merindukan pistol Sign dan Suara Kutilang
                Selama 3 jam 6 menit pesawat bergerak dengan penuh dinamika keeping track, correction time , hingga akhirnya sampai di Dropping Zone. Menjelang Point of descend kembali tidak bisa terelakkan pergerakan pesawat terhadang oleh awan rendah yang menyelimuti daerah Dumai sekitarnya. Adrenalin kembali terpacu saat menjelang Initial Point (IP) di atas kota Duri , saat leader memanggil di frekwensi Dalpur. “Kutilang 1 …Gagak 3”. Demikian leader memanggil personel Dalpur yang telah diterjunkan Hari H- 3 di daerah operasi. Beberapa kali komunikasi dengan Dalpur belum bisa terhubung, sementara kita sangat membutuhkan informasi kondisi Dropping Zone (DZ) sesegera mungkin untuk mempersiapkan penerjunan. Ketegangan tersebut akhirnya luluh ketika suara personel Dalpur muncul dengan membacakan informasi weather dan akan menembakkan pistol sign guna membantu mengarahkan pesawat. Pistol sign nampak jelas mengudara sehingga memudahkan pesawat leader menuju sasaran. Pesawat 1 dengan 9 bundles yang berisi senjata dan amunisi , Peswat 2 sampai dengan Pesawat 9 masing-masing memuat 52 peterjun dapat diterjunkan dengan aman. “Execellent centre DZ and chute opening normal , sir “ demikian personel Dalpur melaporkan kepada Flight Leader. Puji syukur akhirnya seluruh pesawat dapat melaksanakan penerjunan dengan aman dan segera kembali menuju ke Pekanbaru.

Air Landed Sebagai Eselon Susulan
                22 menit meninggalkan Drop Zone akhirnya 9 pesawat dapat landing di Pekanbaru dengan aman setelah melaksanakan Downwind recovery Run way 36. Tidak berhenti sampai dengan ini, karena sebanyak 285 pasukan Linud telah bersiap untuk digeser menuju ke daerah sasaran di bandara Pinang Kampai Dumai . Sehingga dalam waktu 45 menit setelah landing 3 pesawat C-130 Hercules harus kembali melaksanakan start engine untuk melaksanakan misi Air Landed. Berkat kesigapan lanud pendukung dan koordinasi melekat 3 pesawat C-130 dapat kembali take off sesuai dengan schedule time yang diberikan dan akhirnya kembali mendarat di Lanud Pekan baru dengan aman.

Team Work sebagai modal awal
                Keberhasilan dalam sebuah misi tidak lain adalah keberhasilan bersama team. Seluruh personel yang telah berkontribusi baik langsung maupun tidak langsung merupakan orang-orang hebat yang pantas untuk diapresiasi. Rekan-rekan dari pemeliharaan, personel pendukung dari Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma, Abdulrachman Saleh serta Pekanbaru telah bersama-sama menunjukkan dedikasi dan profesionalisme sebagai kekuatan Udara yang dapat bergerak dengan kesiapan yang maksimal. Dibalik semua kekurangan yang ada dalam latihan ini tentunya kita sama-sama berharap bahwa hari esok harus lebih baik dari hari kemarin untuk menuju The First Class Air Force.
“Swadayayajnana Anuraga Bhakti Nagara”

Senin, 02 Juli 2012

My Air force Story

By: Captain Taufik Nur C

It is sometimes forgotten that reading back our story life in the past for revivifying some noble ideas is very important. In order to deal with that, I would like to describe about my story as an Indonesian Air Force Officer. Specifically, I will elaborate more my reason for joining Indonesian Air Force, my current duties and responsibilities as well.       
The first thing that I consider when I enlisted in Indonesian Air Force was the high cost of education in university. My country was in bad economic condition when I graduated from senior high school in 1998 because of reformation stage which was emerged by most of youth generation. As a result, live costs become high and difficult to get cheap cost of education. In addition, another consideration is to relieve my parent burden on family’s expenses. I was brought up as the youngest son in a big family which comprises of six children in small house. Therefore, my father, an art teacher, has to work hardly for gaining some money to support and foster all his children’s dream. Meanwhile, I personally want to be a pilot since I was seeing Top Gun movie at the old brick wall cinema in my hometown. Even though it looked like an untouchable dream at that time, I had strong belief that I could get it. Because of all these reasons, I had been undergoing the task successfully in my unit since I graduated from Indonesian Air Force academy in 2001.