Senin, 06 Agustus 2012


 Meningkatkan Situational Awareness (SA)
Oleh: Kapten Pnb Taufik Nur Cahyanto, S.T

 Umum
            Tulisan ini akan membahas secara langsung sebuah definisi dari Situational awareness.  Dalam hal ini akan coba kita jelaskan proses pencapaian dan mempertahankan SA dengan focus pada bagaiamana SA dapat hilang, mengajukan beberapa strategi pencegahan serta bagaimana kita mengembalikannya (recovery). Lebih jauh tulisan ini dimaksudkan untuk membantu pembaca mencapai dan mempertahankan SA untuk mencegah jatuh ke dalam jebakan yang tergabung dalam Loss of Situational Awareness, dan menghindari efek-efek yang merugikan dari Loss of SA pada keselamatan terbang dan kerja.

 Latar Belakang Informasi
            Dalam rangka memahami lebih jauh , definisi Situational Awareness adalah (Sumber: Mica Endsley – 1988) : 
•  Sebuah persepsi dari elemen-elemen pada sebuah lingkungan dalam ruang dan waktu.
•  Pemahaman arti  dari elemen tersebut 
•  Proyeksi statusnya di waktu yang akan datang
Sedangkan komponen-komponen pokok dari Situasional Awareness adalah sebagai berikut :

 Environmental Awareness : Kewaspadaan terhadap pesawat lain, komunikasi antara ATC dan pesawat lain, cuaca atau terrain
Mode Awareness : Kewaspadaan terhadap konfigurasi pesawat dan system automatis pada model pesawat.
Spatial Awareness : Kewaspadaan terhadap posisi geografis dan altitude pesawat. (dimensi ruang)

System Awareness : Kewaspadaan terhadap system pesawat dan system yang terintegral dalam pesawat.

Time Horizon : Kewaspadaan terhadap waktu, ketika pelaksanaan procedure yang yang dilakukan sesuai dengan waktu yang tepat.

Terakhir termasuk aspek-aspek seperti speed saat ini dan yang dikehendaki, ketinggian (altitude), arah (heading), auto pilot, Armed engaged dan kondisi data-data FMS( Flight Management System) yang dimasukkan serta planning penerbangan yang dimasukkan.

 Data Statistik
         Situational awareness bukan sekedar pendapat teoritis dan berkenaan dengan sebagian besar kasus accident atau incident.  Hal ini nyata dan ketidak beradaannya selalu menyebabkan accident. Penelitian dari Australian Transportation Safety Board (ATSB) menunjukkan bahwa factor manusia (human factor) adalah penyebab kontribusi sekitar 70 % dari seluruh incident dan accident. Sekitar 85 % dari laporan incident termasuk kasus kehilangan Situasional Awareness (Lost of Situational Awareness).
          Penurunan Situasional Awareness dapat mengarah kepada ketidak mampuan membuat keputusan  (decision  making)  dan tindakan yang tidak sesuai. Hal ini diilustrasikan pada table 1, dimana faktor-faktor penyebab termasuk dalam kecelakaan-kecelakaan approach dan landing.
Table 1
Factor
% of Events
Inadequate decision making
74%
Omission of action or inappropriate action
72%
Non-adherence to criteria for stabilized approach
66%
Inadequate crew coordination, cross-check and back-up
63%
Insufficient horizontal or vertical Situational Awareness
52%
Inadequate or insufficient understanding of prevailing conditions
48%
Slow or delayed action
45%
Flight handling difficulties
45%
Deliberate non-adherence to procedures
40%
Inadequate training
37%
Incorrect or incomplete pilot/controller communication
33%
Interaction with automation
20%
Causal Factors in Approach and Landing Accidents
Source: Flight Safety Foundation - Flight Safety Digest Volume 17 & 18 – November 1998 / February 1999.
 Mencapai dan mempertahankan Situational Awareness
            Situational awareness adalah mempunyai pemahaman yang akurat terhadap apa yang sedang terjadi di sekeliling kita dan apa yang mungkin dapat terjadi di masa yang akan datang. Seperti ditunjukkan pada gambar 1, situational awareness  terdiri dari 3 proses:

•  Persepsi apa yang sedang terjadi (Level 1)
•  Memahami terhadap apa yang telah diketahui / dirasakan (Level 2)

•  Memanfaatkan apa yang sudah dipahami untuk berpikir kedepan (Level 3).
Source: Adapted from Endsley’s definition
Gambar  1
Gaining and Maintaining Situational Awareness
Level 1 — Persepsi: scanning, pengumpulan data 
            Untuk membentuk sebuah model mental dari lingkungan, adalah penting untuk mengumpulkan data yang cukup dan berguna dengan menggunakan indera penglihatan, pendengaran, dan peraba untuk mengamati lingkungan. Kita harus memusatkan perhatian kita pada aspek-aspek yang paling penting dan relevan dari sekeliling kita dan membandingkan apa yang kita rasakan dengan pengalaman dan pengetahuan dalam memori kita. Hal ini adalah proses aktif yang memerlukan disiplin khusus, demikian juga mengetahui apa yang dicari, kapan untuk mencarinya dan mengapa.

Contoh; Pengumpulan data rencana terbang: Available routes, Available altitudes, Planned flight path, Dispatcher's concurrence with plan, Fuel reserve requirement, Arrival fuel requirement, Assigned runway, Planned climb profile, Planned airspeed profile .

Level 2 — Representation: understanding, creating our mental model  
            Pemahaman kita dibangun oleh kombinasi observasi–observasi dari dunia nyata dengan pengetahuan dan pengalaman yang diingat dari memori.  Apabila kita sukses mencocokkan observasi-observasi dengan pengetahuan dan pengalaman, seperti yang ditunjukkan pada gambar 2, kita telah mengembangkan model mental yang tepat dari lingkungan kita. Model mental harus tetap dijaga agar tetap up to date sesuai dengan masukan dari dunia nyata dengan memberikan perhatian kepada jangkauan informasi yang luas.


Memahami situasi dengan mencocokkan Mental Model dan  dunia nyata.
Contoh: Pemahaman flight plan data: Deviasi antara perencanaan dan  and profile yang optimal, Persyaratan-persyaratan Safety/legal , kemampuan-kemampuan pesawat dan syarat-syarat ATC, cadangan fuel , deviasi/perubahan jadwal,deviasi Heading, deviasi Altitude, Deviasi Airspeed dll.

Level 3 — Projection: Thinking Ahead, Updating the Model  
            Pemahaman kita dapat digunakan untuk berpikir kedepan dan memperkirakan kondisi lingkungan yang akan datang. Tahap ini adalah krusial pada proses pengambilan keputusan oleh pilot dan memerlukan pemahaman kita berdasarkan pada pengumpulan data yang cermat se akurat mungkin. Secara sederhana “Terbanglah didepan pesawat”.

Contoh; Merancang flight plan data: merancang taxi time, merencanakan schedule deviation, memperkirakan waktu kedatangan , memperkirakan penggunaan fuel, memprediksi jumlah pembakaran fuel, merencanakan kemampuan waktu pada fuel yang digunakan, merencanakan waktu menuju tujuan …
  
 Situational Awareness dan Proses pembuatan keputusan
            Situational awareness sangat berkaitan erat dengan proses pembuatan keputusan (decision making process).  Gambar 3 menunjukkan sebuah model sederhana  dari keterikatan antara SA dan pembuatan keputusan. SA harus mendahului pembuatan keputusan (decision-making) karena operator harus memahami sebuah situasi untuk mencapai sebuah tujuan. ( Sumber: Endsley, 1995 )
Gambar 3
Situational Awareness and Pembuatan keputusan

            Tindakan-tindakan kita digerakkan oleh tujuan-tujuan kita. Untuk membantu kita mencapai tujuan, kita menggunakan model mental untuk mengantisipasi hasil dari tindakan kita. Hal ini dapat kita pikirkan sebagai proses masukan awal. Semakin kita mengantisipasi secara akurat/tepat, semakin efisien kita dalam tugas-tugas. Semakin banyak energy kita simpan, dan kita dapat semakin mempertahankan sumber-sumber untuk situasi yang tidak diharapkan. Secara kebalikan, dengan membandingkan hasil dari tindakan-tindakan kita dengan tujuan yang telah ditentukan, kita dapat memodifikasi tindakan-tindakan kita atau jika perlu tujuan-tujuan kita. Masukan (feedback) ini adalah vital untuk kesuksesan sebuah proses. Feedback dan antisipasi membantu menjaga mental kita terhadap  gambaran dunia disatukan dengan kondisi nyata. Loss of situational awareness terjadi ketika perwakilan mental yg tidak sesuai ditampilkan sebagai ganti dari bukti di dunia yang nyata. Orang-orang akhirnya bertindak pada kerangka yang salah dan mencari isyarat hati untuk konfirmasi terhadap pengharapannya., atau yang biasa dikenal dengan tingkah laku bias. Dengan kata lain, Situational awareness mempengaruhi pembuatan keputusan dan mengijinkan kita untuk tetap berada di depan pesawat” thing ahead”:

Latihan terbaik, Strategi Pencegahan Loss of Situasional Awareness.

Membangun  Situational Awareness
•  Menentukan tujuan yang khusus 
−  Mendefinisikan target dan pengumpulan data
•  menentukan prioritas 
−  Ikuti  SOP yang berlaku
•  Bersiap untuk adanya perubahan tak terduga ( anomalies  )
−  Pertimbangkan visual ilusi, informasi yang hilang dll.
•  Buat  risk assessments (perkiraan resiko)
−  Tanya, “Bagaimana jika?”
•  Manage beban kerja 
− Tugas secara bergiliran mencegah waktu sibuk, pendelegasian, antisipasi.

Mempertahankan Situational Awareness : 
•  Berkomunkasi 
−  Jaga semua crewmember dan partisipasi pihak luar (e.g., Organisasi, kelompok pendukung, Ground support) tetap dalam loop atau siklus perputaran.
•  Manage Perhatian
−  Tentukan prioritas, hindari pengalihan perhatian, sesuaikan monitoring pada fase emergency.
•  Mencari  informasi 
−  Gunakan indera-indera yang kita miliki. 
−  Ketahui APA yang penting, KAPAN mencarinya and DIMANAdapat menemukannya
−  Validasi semua data yang kita punya
•  Cross-check
–Gunakan sumber –sumber lebih dari satu untuk informasi yang kita butuhkan.
•  Berpikir kedepan
−  Brifieng kepada orang lain apa yang anda harapkan
−  Perbandigkan rencana dengan tujuan
−  Perbandingkan kondisi actual dengan harapan dan tujuan.
 −  Sesuaikan planning jika diperlukan.

Mendeteksi  Loss of Situational Awareness
−  Ambiguity – Rencana penerbangan yang tidak jelas atau intruksi ATC yang tidak jelas.
−  Fixation – Fokus terhadap satu hal untuk mengecualikan hal-hal yang lain.
−  Confusion –Tidak tentu atau salah pengertian terhadap sebuah situasi atau informasi.
−  Preoccupation – Setiap orang focus pada non-flying aktivitas; tidak ada satupun menerbangkan pesawat. 
−  Unresolved discrepancies – Data yang berlawanan atau konflik personal.
−  Expected checkpoints not met – Flight plan, profile, time, fuel burn
−  Poor communications – Pernyataan yang tidak jelas atau tidak complete.
−  Broken rules – Melanggar aturan ,Limitasi, minimums, persyaratan aturan, kesalahan dalam mengikuti SOP.

Recover Situational Awareness
•  Pergi ke SITUASI STABIL,SEDERHANA,DAN AMAN terdekat.
−Ikuti ketentuan-ketentuan, prosedur dan  SOPs
−Rubah level automatis yang terendah.
−Beli waktu (minta penundaaan radar vectors, holding ataumemperpanjang downwind leg).
•  Communicate. Meminta bantuan bukanlah sebuah indikasi kekurangan.
• Recover the big picture. Memperbaiki hal secara menyeluruh bukan memandang sebagian kcil kondisi.
           −  Kembali ke sesuatu yang anda pernah yakini terakhir.
           −  Ukur situasi dari perspektif yang berbeda dengan sumber yang berbeda.
           −  Perluas focus anda untuk menghindari pandangan sempit.
           −  Manage stress dan pengalihan perhatian.
           −  Gunakan waktu untuk  berpikir / Gunakan waktu itu / Bersedia untuk menunda. 

Kesimpulan
•  Situational awareness adalah penting untuk keselamatan terbang dan pengaruhnya mudah menyebar. 
•  Situational awareness  dicapai dengan menggunakan indera untuk mengamati lingkungan dan membandingkan hasilnya dengan model mental.
•  Perencanaan,komunikasi dan koordinasi untuk fase penerbangan yang akan datang, penentuan tujuan dan feedback adalah hal yang sangat penting dari bagian Situasional awareness dan pembuatan keputusan.
• Tidak memperhatikan, pengalihan perhatian dan beban kerja yang tinggi mengancam Situasional awareness.







1 komentar:

  1. izin, mhn bantuan, dan arahan.. saya syaiful dari taruna sekolah tinggi teknologi kedirgantaraan yogyakarta, apakah diperbolehkan saya tahu buku yang membahas ttg Situational Awareness (SA) penerbangan, saya butuh referensi buku untuk pembuatan skripsi saya.

    BalasHapus