Selasa, 07 Agustus 2012


Operational Risk Management (ORM)
Oleh :
Kapten Pnb Taufik Nur Cahyanto, S.T


Pengertian

Operational Risk Management (ORM) adalah sebuah sarana pembuatan keputusan yang dilaksanakan secara systematis untuk membantu mengidentifikasi resiko-resiko dalam kegiatan operasional dan keuntungan-keuntungan serta menentukan cara bertindak yang terbaik untuk setiap situasi. Pada pelaksanaanya ORM di terapkan selama kegiatan operasional. Sebagai contoh , ORM diterapkan sebelum setiap kegiatan penerbangan. ORM di laksanakan untuk meminimize resiko-resiko dalam rangka mengurangi kecelakaan-kecelakaan, menjaga asset dan melindungi terhadap keselamatan dan kesehatan seluruh anggota organisasi.

Managemen resiko yang kita diskusikan ini, lebih kearah sebuah tindakan pre-empitive daripada tindakan reactive.  Pendekatan yang kita gunakan adalah berdasarkan filosofi bahwa apabila kita menunggu sebuah accident tanpa belum pernah berbuat langkah-langkah antisipatif merupakan sebuah bentuk sikap yang tidak bertanggung jawab. Kita bisa di katakan memanage resiko ketika kita mengubah cara kita dalam melakukan sesuatu agar kesempatan untuk mencapai kesuksesan dapat sesempurna mungkin, dan disamping itu tidak tercipta peluang–peluang untuk melakukan kesalahan serta dapat menghasilkan kehilangan dan kerugian sekecil mungkin. Hal ini merupakan sebuah pendekatan yang dapat diterima dengan akal sehat (common sense), untuk menyeimbangkan resiko-resiko terhadap keuntungan – keuntungan yang dapat di capai dalam sebuah situasi yang selanjutnya digunakan menentukan cara bertindak yang paling effective.

Seringkali, pendekatan managemen resiko sangat tergantung pada sifat individu dan tingkat pengalaman masing–masing orang yang biasanya sangat reaktif. Adalah sebuah hal yang alami untuk selalu fokus terhadap hazard yang telah menyebabkan suatu accident ataupun incident di waktu yang lampau. Dalam lingkungan operasional penerbangan, sering kita menjumpai sebuah potensi kecelakaan yang selalu berulang-ulang dan dapat dengan mudah untuk diidentifikasi oleh operator. Dengan menggunakan ORM sebagai sebuah alat bantu dalam proses pembuatan keputusan, diharapkan kita sebagai operator maupun penentu kebijakan dapat menilai sejauh mana tingkat keamanan dalam sebuah misi yang akan kita laksanakan.

            Pada gambar 1 dibawah ini menggambarkan tujuan-tujuan daripada sebuah proses Operational Risk Management (ORM) yang meliputi tindakan perlindungan terhadap:
a.       Operator (Manusia)
b.      Peralatan (equipment)
c.       Sumber daya lain yang ada pada sebuah organisasi (system,hardware,software)
Pencegahan accident dan upaya pengurangan kehilangan baik fisik maupun psikis merupakan aspek penting dalam pencapaian tujuan tersebut. Tahapan tersebut meliputi identifikasi hazard maupun peluang (opportunities) dalam sebuah kegiatan. Secara berkebalikan baik peluang maupun hazard harus ditingkatkan maupun di eliminasi. Hal ini pada dasarnya bermuara pada kegiatan perlindungan terhadap personel maupun sumber-sumber yang ada pada sebuah organisasi. Dengan demikian rangkaian kegiatan tersebut menghasilkan subuah optimalisasi kemampuan operasional (Maximize Operational Capability) yang dapat dilaksanakan.
Figure 1: Risk Management Goal
 

.

Prinsip-prinsip Operational Risk Management (ORM)

Berikut ini akan kami jelaskan 4 prinsip yang mengatur seluruh tindakan yang berkaitan dengan kegiatan ORM. Prinsip- prinsip ini diharapkan agar dapat diterapkan sebelum, selama dan setelah tugas dilaksanakan oleh setiap individu yang terlibat di semua level kebijakan. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut :

a.                  Tidak menerima resiko yang tidak perlu. Resiko yang tidak perlu (Unnecessary risk) adalah sebuah bentuk resiko yang bila kita laksanakan tidak ada timbal balik keuntungan yang sepadan. Kita sadar bahwa segala sesuatu pasti ada resiko. Sehingga pilihan yang paling logis dalam menyelesaikan sebuah operasi adalah memenuhi segala requirement dengan kemungkinan resiko yang paling kecil. Pemahaman yang bisa kita terima dalam konsep ini adalah “menerima resiko yang penting” dalam arti kita harus mengambil resiko yang dapat kita antisipasi dan dapat memberikan kesuksesan dalam pelaksanaan tugas.

b.                  Membuat keputusan terhadap sebuah resiko pada tingkat yang sesuai.  Setiap orang dapat membuat keputusan terhadap sebuah resiko. Akan tetapi, pembuat keputusan yang tepat adalah, seseorang yang dapat mengumpulkan sumber-sumber untuk mengurangi atau menurunkan resiko yang akan dihadapi serta menerapkan fungsi-fungsi control yang baik. Pembuat keputusan (Decision-maker) harus mampu mengambil keputusan berdasarkan kewenangan dan kemampuan pada level yang diduduki. Mereka harus mengajukan keputusan kepada level yang lebih tinggi sesuai dengan rantai managemen dalam sebuah organisasi dalam rangka menentukan keputusan yang paling baik.

c.                   Menerima resiko ketika keuntungan lebih berat dari pada pengeluaran. Semua keuntungan yang terlihat harus dibandingkan dengan pengeluaran atau biaya yang harus dilakukan. Meski resiko yang tinggi harus diambil ketika ada pengetahuan dan total keuntungan melebihi total pengeluaran. Keseimbangan antara biaya  dan keuntungan adalah proses yang cukup subyektif yang akhirnya dapat ditentukan dengan sewenang-wenang oleh pembuat keputusan.

d.                  Mengintegrasikan ORM pada perencanaan di semua level. Resiko-resiko yang ada lebih mudah di ukur dan di manage pada tahapan perencanaan sebuah operasi. Perubahan-perubahan kemudian dibuat pada proses perencanaan dan pelaksanaan dalam sebuah operasi. ORM merupakan bentuk kejujuran dalam menilai sebuah perencanaan yang akhirnya dapat kita identifikasi kelemahan dan kekurangan sebelum pelaksanaan operasi. Perbedaan cara pandang di semua level merupakan nilai lebih dalam proses ini sehingga perlunya kemampuan mengintegrasi cara pandang tersebut dalam proses perencanaan.

Intisari Operational Risk Management (ORM) proses
  
Step 1: Identify the Hazard
            Bahaya (Hazard) adalah kondisi nyata ataupun kondisi yang berpotensi yang dapat menyebabkan penurunan, luka, penyakit, kematian , kerusakan , kerugian atau kehilangan peralatan. Alat yang digunakan untuk membantu proses identifikasi bahaya ataupun resiko dapat berupa pengalaman, akal sehat dan alat analisa khusus.

Step 2: Assess the Risk
Assessment step (Penilaian, pengukuran) merupakan penerapan dari langkah pengukuran kwantitatif dan kwalitatif untuk menentukan tingkat resiko yang tergabung dalam bahaya-bahaya tertentu. Proses ini akan menghasilkan tingkat kemungkinan (probability) dan tingkat keburukan (severity) yang dapat dihasilkan oleh potensi bahaya yang telah diidentifikasi.

Step 3: Analyze Risk Control Measures
Meneliti strategi-strategi dan alat –alat khusus yang dapat mengurangi dan  menghilangkan resiko. Seluruh resiko mempunyai 3 komponen : kemungkinan terjadi , keburukan dari bahaya, dan daya tahan manusia dan peralatan terhadap resiko. Pengukuran dan controlling  yang dilakukan secara efektif dapat mengurangi sedikitnya satu komponen tersebut.

Step 4: Make Control Decisions
Tentukan decision –maker yang sesuai berdasarkan kondisi yang dihadapi. Pengambil keputusan tersebut harus memilih alat pengendali resiko yang terbaik berdasarkan step 3.

Step 5: Implement Risk Controls
Pengaturan harus membentuk sebuah perencanaan yang mendukung pengendali resiko yang sudah dipilih kemudian menyediakan waktu, materi dan personel yang diperlukan untuk menaruh alat ukur tersebut pada tempatnya.

Step 6: Supervise and Review
Ketika alat dan fungsi control yang telah ditempatkan, proses harus dievaluasi kembali secara periodic untuk meyakinkan effektifitas fungsi control tersebut. Anak buah dan bapak buah dalam sebuah organisasi harus melaksanakan peran sesuai dengan tugas dan tanggung jawab mereka dalam rangka menjamin fungsi alat ukur dan control tersebut dapat bertahan sesuai dengan kondisi terkini. Proses managemen resiko berkesinambungan melalui sebuah siklus yang terjadi dalam system, misi dan aktivitas sehari-hari.


Risk Management Responsibilities

Managers/ Komandan
·  Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan managemen resiko yang efektif.
·  Menentukan atau memilih dari opsi analisa resiko yang diajukan oleh staff.
·  Menerima atau menolak resiko berdasarkan keuntungan yang dapat diambil.
·  Melatih , membina dan memotivasi anak buah untuk menggunakan tehnik-tehnik managemen resiko.
·  Mengajukan keputusan-keputusan yang diambil kepada tingkat yang lebih tinggi ketika hal tersebut sesuai.
Staff
·  Menilai resiko-resiko dan mengembangkan alternative pengurangan terhadap resiko.
·  Mengintegrasikan pengendali resiko kedalam perencanaan dan perintah kepada anak buah.
·  Mengidentifikasi pengendali resiko yang tidak perlu.
Supervisors
·  Menerapkann proses managemen resiko.
·  Menerapkan risk managemen konsep dan metode operasi yang efektif secara konsisten.
·  Mengajukan masalah –masalah yang dapat menimbulkan resiko kepada atasan untuk dievaluasi.
Individuals
·  Memahami, menerima dan menerapkan proses managemen resiko dalam setiap kegiatan.
·  Mempertahankan kewaspadaan terhadap perubahan-perubahan resiko yang tergabung dalam setiap tugas dan operasi.
   
Contoh Penerapan (Implementasi)

            Dalam sebuah kegiatan penerbangan perlu kiranya kita selalu menerapkan managemen resiko untuk mengidentifikasi potensi hazard maupun kerugian dari perencanaan yang telah kita buat. Ada beberapa kendala yang biasa terjadi dalam lingkungan kita saat ini dalam menerapkan ORM yaitu:
           
a.                   Munculnya potensi hazard atau resiko dalam perencanaan disikapi dengan reaktif sebagai kekurangan, kurang persiapan dan bahkan sebuah pelanggaran yang akan mendatangkan punishment bagi perencana. Hal ini membuat iklim ketidak jujuran dalam setiap kegiatan briefing perencanaan.

b.                  Resiko yang muncul dalam setiap kegiatan penerbangan harus dicari solusi real untuk dihilangkan atau setidaknya di eliminasi.

c.                   Kebijakan Versus Aturan. Kegiatan operasional penerbangan yang dilaksanakan oleh crew pesawat C-130 hercules menuntut adanya kebijakan yang diambil oleh seorang capten pilot. Dimana kita ketahui bersama bahwa kebijakan adalah cenderung melanggar  aturan. Proses ORM seringkali terhambat oleh adanya kebijakan yang harus diambil. Sehingga kendala ini harus dapat diidentifkasi dengan mendalam agar kebijakan yang diambil tidak boleh mengalahkan atau melanggar proses ORM yang telah dilaksanakan.

Berikut ini adalah sebuah bentuk praktis guide lines  yang dapat diterapkan dalam sebuah kegiatan penerbangan yang akan kita lakukan.
  
 RISK ASSESMENT
SECTION
L
(LOW)
M
(MEDIUM)
H
(HIGH)
E
(EXTREME)
MISSION
X
ENEMY
X
TERRAIN (ENVIRONMENT)
X
TROOPS
X
TIME
X
PERSONEL
X
L
M
H
E
OVERALL
x

Kesimpulan

            Operational Risk Management (ORM) merupakan sarana yang logis dan sistematis dalam rangka identifikasi dan mengendalikan resiko. Operational risk management (ORM) bukanlah proses yang rumit dan complex namun memerlukan keterlibatan individu untuk mendukung dan menerapkan prinsip-prinsip dasar dalam menerapkan mangemen resiko. ORM menawarkan kepada individu dan organisasi sebuah alat yang cukup berkekuatan untuk meningkatkan effektifitas dan mengurangi potensi accident. Apabila hal ini kita terapkan dengan baik niscaya tujuan kita dalam mencapai keselamatan terbang dan kerja akan dapat segera terwujud.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar