Sabtu, 25 Agustus 2012




PEMIMPIN YANG DICINTAI DALAM ORGANISASI 

Oleh : TNC

“Anda bisa mencintai orang lain tanpa memimpin mereka, tetapi Anda tidak bisa memimpin orang lain tanpa mencintai mereka” (HR At –Tirmizi)


          Manusia terlahir secara kodrati menjadi seorang pemimpin. Mau tidak mau , suka tidak suka, kita pada dasarnya adalah seorang pemimpin. Mulai dari pemimpin bagi Negara sampai dengan pemimpin bagi diri kita sendiri. Kesadaran akan peran sebagai seorang pemimpin inilah yang harus mendorong kita untuk memahami, mempelajari dan menerapkan leadership trait yang up to date, relevan serta efektif dalam menjalani kehidupan sebagai kalifah di muka bumi. Sehingga pada kesempatan kali ini, akan kita bahas tentang syarat-syarat serta keuntungan menjadi pemimpin yang dicintai.

Syarat Pemimpin yang dicintai

a.  Pemimpin yang berkepribadian. Harry S Truman yang berkata : “ Disiplin pribadi (diri sendiri) adalah suatu hal yang datang telebih dulu. Pemimpin tidak akan berhasil memimpin orang lain apabila ia belum berhasil memimpin dirinya sendiri. Pemimpin harus mampu dan berhasil menjelajahi dirinya sendiri; mengenal secara mendalam siapa diri sebenarnya. Sebelum ia memimpin keluar , ia harus lebih dulu memimpin ke dalam. Federick Agung , raja Prusia yang terkenal pada suatu hari berjalan-jalan di pinggiran kota Berlin. Ia bertemu dengan seorang tua dan bertanya.

Federick : “Kau Siapa ?”

Laki” Tua: “Saya raja!”

Federick”: “Raja!?” (sambil tertawa)…

“Atas kerajaan mana kau memerintah?”

Laki”Tua: “Atas diri saya sendiri” (dengan bangga)

    Sesungguhnya pekerjaan itulah yang paling berat. Memimpin diri sendiri melawan hawa nafsu adalah refleksi kedisiplinan diri. Disiplin diri adalah bagaimana mencapai apa yang sungguh-sungguh diharapkan dengan tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Sifat-sifat kepribadian itulah yang harus dimiliki oleh pemimpin yang dicintai oleh anak buah. Mereka tidak hanya sekedar menjalankan perintah, tugas serta tanggung jawab karena keterpaksaaan namun karena mereka ikhlas bekerja untuk seorang pemimpin. Pemimpin yang berkepribadian akan selalu dicintai oleh anak buah dimanapun berada.

b. Mempunyai Integritas tinggi kepada organisasi.  Integritas didefinisikan sebagai tindakan yang konsisten sesuai dengan nilai-nilai dan kebijakan organisasi serta kode etik profesi, walaupun dalam keadaan yang sulit untuk melakukan ini. Dengan kata lain, “satunya kata dengan perbuatan”. Mengkomunikasikan maksud, ide dan perasaan secara terbuka, jujur dan langsung, sekalipun dalam negosiasi yang sulit dengan pihak lain. Seorang pemimpin diharapkan mempunyai niat yang tulus untuk bekerja dan berbuat untuk kemajuan organisasi. Ketulusan dan kerelaan berbuat yang terbaik itulah yang mendasari anak buah akan mencintai pemimpinnya. Mereka merasa tenang di lingkungan yang dipimpin oleh seorang yang mempunyai integritas yang tinggi karena mereka akan yakin bahwa pemimpin tersebut akan memikirkan dan melindungi anak buahnya.

c. Memimpin dengan Hati.  Untuk menjadi seorang pemimpin yang dicintai gunakanlah hati dalam berinteraksi dengan anak buah. Berikan sentuhan-sentuhan pendekatan kemanusiaan dalam berkomitmen. Setiap menugaskan suatu pekerjaan , sentuhlah kesadarannya terlebih dahulu. Berikan pemaknaan pada hatinya dengan menjelaskan tujuan akhir apa yang sesungguhnya harus dicapai. Bentuk ini nampaknya mulai ditinggalkan oleh sebagian pemimpin. Tajamnya ucapan mampu menyentuh dasar hati manusia yang akhirnya mampu merangsang otak untuk mengambil keputusan, memerintahkan seluruh organ tubuh untuk melaksanakan ucapan seorang pemimpin. Pendekatan humanis terkadang merupakan faktor penentu dalam sebuah decision making process. Ikutilah kata hati saat semua usaha telah kita lakukan sesuai dengan ketentuan Dan dasar ilmu yang kita miliki. Karena sesungguhnya kata hati itulah salah satu bentuk petunjuk dari Tuhan YME sebagai buah hasil tawakal manusia.


Keuntungan Pemimpin yang dicintai

 a. Efektif dalam mencapai tujuan. Tujuan yang ditetapkan akan dapat dicapai dengan efektif karena anggota akan loyal terhadap perintah pimpinan karena rasa cinta yang tumbuh.

b. Hubungan social humanis. Pada dasarnya diluar konteks hubungan atasan dan bawahan , manusia tercipta sebagai makhluk social yang akan saling membutuhkan. Hubungan sesame manusia akan mendasari

c. Tujuan tercapai dengan maksimal. Tercapainya tujuan akan dapat dicapai dengan adanya sinergi antara atasan Dan bawahan dengan komunikasi secara mendalam. Bukan sekedar hubungan formal yang terbatas pada tugas tanggung jawab dinas. Ada sebuah rasa tanggung jawab moral menjalankan tugas karena adanya pemahaman kecerdasan spiritual yang dimiliki oleh anak buah maupun atasan.

d. Long Lasting label. Jangan lupa jabatan adalah sebuah amanah Dan sekedar titipan bagi manusia. Kapanpun Dan dimanapun amanah tersebut dapat diambil oleh yang maha kuasa. Dengan kesadaran tersebut kita harus siap untuk tidak menjadi pemimpin disamping siap menjadi pemimpin. Bayangkan apabila saat menjadi pemimpin kita disegani karena posisi , dihormati dan ditakuti karena posisi, apa yang akan terjadi bila posisi itu sudah hilang di genggaman kita. Akankah kita masih tetap dihormati saat tidak mempunyai jabatan?? Bandingkan bila saat kita memimpin, anak buah menghargai kita sebagai pemimpin karena kita memimpin mereka dengan ketulusan dan menunjukkan dedikasi, maka label pemimpin yang rahmatan lil alamin akan selalu melekat sampai akhir hayat kita. Aminnnn…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar