Jumat, 07 September 2012

KC-130 HERCULES  MAKES  SUKHOI 30MK  LONGER
Oleh : TNC

  
“Catatan Sejarah tergores dalam tinta emas perkembanagan TNI Angkatan Udara . Setelah melalui pengkajian,uji statis dan uji dinamis , pesawat KC-130 Hercules  siap melaksanakan penerbangan air refueling untuk pesawat Sukhoi 30MK.”

          Skadron Udara 32 sebagai satuan operasional di bawah jajaran Wing 2 Lanud Abdulrachman Saleh yang mengoperasikan pesawat C-130 B/H dan C-130 BT mempunyai beberapa tugas yang cukup significant di dalam operasi dukungan udara. Salah satu tugas tersebut adalah melaksanakan penerbangan air refueling  (pengisian bahan bakar di udara) terhadap pesawat receiver  guna menambah radius of action dalam rangka mendukung operasi selanjutnya. Pesawat  hercules tanker dengan no registrasi A-1309 dan A-1310  telah mengalami beberapa kali refungsi dari tanker menjadi cargo atau sebaliknya dalam rangka menyesuaikan kebutuhan operasional TNI Angkatan Udara pada khususnya dan Negara Kesatuan Republik  Indonesia pada umumnya. Pada saat ini skadron udara 32 mengoperasikan pesawat A-1309 untuk mendukung kegiatan air refueling,sedangkan A-1310 telah refungsi menjadi pesawat cargo.
            Seiring dengan datangnya pesawat tempur Sukhoi 27 dan 30MK yang mempunyai kemampuan pengisian bahan bakar di udara, Skadron udara 32 dengan pesawat tankernya, mendapatkan tugas untuk melaksanakan uji coba pelaksanaan InFlight Refueling dengan pesawat Sukhoi 30MK. Hal ini didasari oleh kontrak pembelian dengan pihak Sukhoi yang termasuk di dalamnya training air refueling serta informasi dari salah satu Instruktur  Rusia Melnikov Sergey yang menyatakan bahwa TUDM ( Tentara Udara Diraja Malaysia) juga menggunakan pesawat KC-130 Hercules dalam misi air refueling terhadap pesawat Sukhoi 30 MK. Sehingga dengan kondisi tersebut  telah dilaksanakan beberapa tahapan Uji coba untuk meyakinkan bahwa misi air refueling dapat  dilaksanakan dengan aman sesuai perhitungan tehnis yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

Tahapan Uji materi dan Laboratorium            
            Dalam rangka menindak lanjuti rencana pelaksanaan uji coba air refueling tersebut terlebih dahulu dilaksanakan persiapan yang terbagi dalam beberapa tahapan. Pentahapan tersebut diantaranya adalah tahapan uji materi dan laboratorium. Tahapan uji materi dan laboratorium  telah dilaksanakan oleh tim dari Dislitbangau  meliputi ; Uji dimensi dan spec drouge KC-130, Uji dimensi dan spec probe Sukhoi 30 MK,Analisa safety  engage dan disengage, Uji lab Jet A-1 dan JP-8. Dari beberapa tahapan uji materi dan laboratorium yang telah dilaksanakan menghasilkan beberapa kesimpulan,diantaranya adalah :

1.            Untuk akurasi dimensi Probe pesawat Sukhoi 30 MK terhadap pesawat A-4 Skyhawk perlu dilaksanakan pengukuran ulang dengan menggunakan absolute digital matic (scale math), untuk lebih meyakinkan dalam pelaksanaan uji coba di lapangan.
2.            Probe cover pesawat Sukhoi 30 MK kondisi fixed, apabila drouge canopy pesawat KC-130 kemungkinan tersangkut maka akan sulit dilepaskan dan material probe pesawat Sukhoi 30 MK berbeda dengan material probe pesawat A-4 atau Hawk 200 yang didesain mudah patah.
3.            Bahan bakar avtur JP-8 merupakan avtur Jet A-1 yang ditambah additive anti karat FSCI (Fuel System corrosion inhibitor ) dan additive anti beku FSII ( Fuel System Icing Inhibitor ). Dengan perbandingan 1000 : 1,6 tanpa merubah net heat content .
4.            Berdasarkan TO pesawat Sukhoi 30 MK menggunakan fuel type TC-1 dan alternatif JET A-1 dan JP-8, namun selama ini menggunakan JP-8 dengan menset fuel grade (brand) selector switch on panel PKU 27-2 to position “TC-1”. Untuk efisiensi disarankan menggunakan JET  A-1.
5.            Berdasarkan TO-1C-130B-1 pesawat KC-130 dapat menggunakan fuel type Jet A-1 dan JP-8.
6.            Perlu perhitungan AOA (Angle Of Attack ) pesawat sukhoi 30 MK dengan speed pesawat KC-130 200-210 kts pada saat pelaksanaan air refueling.

Uji Statis dan Uji Dinamis
            Sesuai koordinasi yang telah dilaksanakan oleh pihak-pihak terkait dalam misi uji coba tersebut, pada tanggal 23 Maret 2009 satu set crew awak pesawat yang dipimpin langsung oleh Komandan Skadron udara 32 letkol Pnb Yani Ajat Hermawan S sebagai RAC ( Refueling area commander ) yang dibantu oleh 2 orang Copilot BT Kapten Pnb Agus R dan Lettu Pnb Dodik S serta satu orang navigator  Kapten Nav M.Jausan sebagai RC ( Rendevous Controller) berangkat menuju pangkalan udara Hasanudin home base skadron udara 11.
Kegiatan uji coba statis direncanakan diawali dengan uji engage dan disengage probe dengan drouge. Untuk meyakinkan bahwa probe yang berada di pesawat Sukhoi 30 MK dapat engage dengan drouge yang berada pada pesawat KC-130 Hercules. Diharapkan apabila sesuai akan dilanjutkan dengan uji transfer fuel untuk mengetahui pressure rate yang di dapatkan. Sehingga ada kesesuaian pressure fuel yang dihasilkan oleh pesawat  transceiver dan receiver. Kegiatan tersebut dilaksanakan on ground dengan kondisi tehnis disesuaikan dengan kondisi sebenarnya. Meskipun ada sedikit keengganan dari tehnisi Rusia untuk laksanakan uji statis on ground dengan alasan bahwa pesawat Sukhoi 30 MK secara spesifikasi tehnis mempunyai kemampuan untuk melaksanakan misi air refueling. Sehingga mereka tidak menjamin apabila dalam proses uji dinamis on ground mengalami kerusakan. Setelah diadakan koordinasi maka diputuskan untuk melaksanakan uji dinamis menggunakan pesawat Sukho 30 MK yang telah datang sebelumnya,bukan menggunakan pesawat Sukhoi 30 MK 2 yang baru datang dari Rusia yang masih dalam kondisi warrantly claim. Hasil yang didapatkan, probe dan drouge dapat engage maupun disengage  dengan sempurna. Hal tersebut menambah semangat crew pesawat KC-130 Hercules untuk turut menjadi saksi sebuah sejarah baru dalam kekuatan udara TNI AU.
Kegiatan dilanjutkan dengan uji dinamis yang dilaksanakan on the air dengan melaksanakan  Inflight Refueling  sesuai dengan parameter masing-masing pesawat. Setelah melaksanakan briefing penerbangan secara terencana dan terukur secara presisi dengan segala antisipasi dalam menghadapi emergency condition dan abnormal condition kedua crew dengan penuh percaya diri bersiap untuk melaksanakan penerbangan uji coba tersebut. Kegiatan InFlight Refueling secara umum dapat terlaksana dengan baik. Secara system tidak ada masalah yang berarti di dalam pelaksanaan ,namun perlu adanya penyesuaian prosedure antara receiver dan pesawat tanker.

Nilai Strategis Air Refueling
          Dengan kondisi geografis Negara Indonesia yang merupakan negara Kepulauan,dimana di setiap pulau relatif sudah ada landasan untuk mendukung operasional penerbangan, konsep air refueling masih dianggap perlu dalam mendukung tercapainya keunggulan di udara. Terlepas dari kondisi performa pesawat Sukhoi 30 MK yang mempunyai daya jelajah cukup jauh dengan kemampuan membawa fuel, perlu kiranya tetap kita pertimbangkan  faktor kecepatan ,daya Jangkau, efektifitas,dan efesiensi pada misi air refueling merupakan karakteristik yang menjadi keunggulan kekuatan udara. Dimana air refueling ( pengisian bahan bakar di udara ) dianggap masih perlu di laksanakan dalam konsep operasi dukungan udara.  Seberapa penting fungsi tersebut dalam sebuah konsep kekuatan udara sangat tergantung pada konsep operasi yang tergelar. Ibarat pepatah “jauh panggang dari api”kondisi armada pendukung air refueling kita memang belum bisa dikatakan ideal karena jumlah pesawat receiver pun belum  mencukupi kondisi ideal yang diharapkan.Sehingga skala prioritas lah yang akhirnya banyak berbicara untuk mengembangkan kemampuan pengisian bahan bakar di udara dalam sebuah operasi udara.
           Bagaimanapun kondisinya, dibalik wacana dan perdebatan konsep air refueling, catatan sejarah telah tergores dalam tinta emas perkembanagan TNI Angkatan Udara . Setelah melalui pengkajian,uji statis dan uji dinamis , pesawat KC-130 Hercules  dinyatakan siap melaksanakan penerbangan air refueling untuk pesawat Sukhoi 30MK. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar