Senin, 19 November 2012


Memaknai Kepemimpinan Sebagai Bentuk Aktualisasi
By: TNC

                Sebagian orang memaknai kepemimpin secara luas dan secara sempit. Memenuhi panggilan sebagai pemimpin dimaknai dengan berbagai aksi pengejawantahan diri. Ada yang pengen mendapatkan penghormatan ekstra gila, perlakuan raja, full service, dilayani dengan fasilitas ekstra sampai dengan aji mumpung. Di lain pihak ada yang ingin memanfaatkan kesempatan itu dengan berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar dengan tindakan dan perbuatan nyata yang jauh dari protokoler.
                Pada saat manusia memaknai kepemimpinan sebagai bentuk aktualisasi, dia akan memposisikan diri sebagai pelayan untuk tercapainya kemaslahatan umat.  Tak heran bila seorang pemimpin ingin menuangkan seluruh ide, kemampuan dan tenaga untuk mengabdi kepada organisasi dan kepada kepentingan organisasi. Oleh karenanya mari coba kita elaborate sedikit mendalam pemahaman kepemimpinan sebagai bentuk aktualisasi dalam sebuah uraian yang berbasis pada teori dan contoh dalam kehidupan kita.

Kepemimpinan Sebagai Fungsi Pelayanan
Esensi memimpin sebenarnya melayani bukan dilayani. Dibalik hak seorang pemimpin, terhampar luas kewajiban seorang pemimpin. Terkadang kita hanya ingin dilayani dan menuntut hak kita untuk diperlakukan sebagai seorang pemimpin. Hal ini bisa terjadi karena selama ini kita menganggap posisi pemimpin itu adalah sekedar “pencapain”. Pertanyaan yang sering dilontarkan kepada kita adalah ingin jadi apakah anda? Seorang Perwira muda TNI akan bercita-cita untuk menjadi komandan batalyon, komandan skadron ataupun komandan kapal. Sedangkan pertanyaan “apa yang akan kalian lakukan jika menjadi posisi – posisi tersebut?”, menjadi sebuah pertanyaan yang cukup langka.  Apabila seorang pemimpin sudah memaknai kepemimpinan sebagai sebuah fungsi pelayanan sudah barang tentu seseorang tersebut telah mempunyai kecerdasan spiritual dan emosional yang cukup tinggi.
Teori tentang kepemimpinan yang melayani mulai muncul sejak tahun 1977 ketika R.K. Green Leaf menulis buku "Servant Leadership : A Journey Into the Nature of Legitamate Power and Greatness". Seorang pemimpin yang melayani hanya dapat melakukan hal itu bila ia menghayati makna peran sebagai orang yang melayani. Ia melakukan hal itu karena ingin melayani orang-orang, ia terdorong untuk membuka kesempatan agar orang-orang disekitanya memiliki kebebasan lebih luas untuk berkembang atau mengalami transformasi. Dengan bahasa sederhana ia dapat menjadi pemimpin yang melayani bila memiliki hati yang melayani.

Sehingga marilah kita menilai diri kita sendiri , sejauh mana fungsi pelayanan yang kita terapkan sebagai seorang pemimpin.
  
Kepemimpinan Sebagai Investasi Akherat

            Tanpa ada sebuah tendensi untuk membawa tulisan ini ke arah aspek religious, penulis ingin kembali mengingatkan bahwa dalam agama kita diajarkan untuk menjadi khalifah di muka bumi sekaligus menjadi “rahmatan lil alamin”. Sehingga memang sudah semestinya kita menjadi seorang pemimpin untuk dapat menciptakan keberkahan alam sekitar sehingga Tuhan akan memberikan bunga tabungan kita di akherat secara besar-besaran. Terkadang menjadi pemimpin yang tidak amanah hanya akan membawa kita terjerumus dalam jurang tabungan dosa. Oleh karenanya waspadalah jika menjadi pemimpin itu hanya dimaknai sebagai pencapaian, maka kita akan menikmati pencapaian tersebut hanya sebatas posisi bukan aktualisasi.
      Apabila orientasi seorang pemimpin dilandasi oleh aplikasi ibadah yang menjunjung tinggi “habluminanas”, tentunya akan membuat sebuah landasan yang kokoh dalam menjalankan amanah sebagai pemimpin.

Kepemimpinan Bukan Sebuah Kebutuhan

            Menurut cara pandang penulis, kepemimpinan itu bukan sebuah kebutuhan yang berarti harus dicapai dengan segala daya dan upaya. Kebalikannya kepemimpinan itu sesuatu yang kita miliki namun diinginkan oleh mayoritas orang di sekeliling kita. Waspadalah jika kepemimpinan itu adalah sesuatu yang harus anda capai, bahkan memaksa orang-orang di sekeliling anda untuk menginginkan anda menduduki posisi pemimpin. Bukan keberkahan yang akan kita dapat namun kehancuran yang akan kita temui. Baik kehancuran pemimpin maupun yang dipimpin.
               
Kepemimpinan Adalah Tindakan Bukan Ucapan

           Di saat manusia memperdalam kemampuannya dalam meningkatkan kecerdasan linguistic , beberapa manusia sadar bahwa dalam kepemimpinan bukan sekedar mampu mempengaruhi orang lain dengan ucapan. Akan tetapi lebih dari pada itu perlu adanya tindakan sebagai bentuk contoh yang diberikan oleh pemimpin kepada anak buah. Esensi dari sebuah kepemimpinan itu adalah berbuat bukan berucap. Karena sejatinya berucap itu domain dari pengamat dan komentator. Sehingga bentuk actualisasi seorang pemimpin lebih kearah tindakan daripada sekedar ucapan.    

          
           "Sebagai kesimpulan singkan, marilah kita berbuat untuk berinvestasi di akherat melalui pemimpin yang mengaktualisasikan dirinya terhadap lingkungan sekitar. Jangan memperebutkan sebuah kedudukan pemimpin dengan memaksa orang-orang di sekeliling anda untuk mengakui bahwa anda pantas menjadi pemimpin ideal."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar