Senin, 09 Desember 2013

Meneladani Kepemimpinan Nelson Mandela

by: TNC

       Di saat Nelson Mandela wafat begitu banyak ungkapan apresiasi masyarakat Internasional mengenang semua jasa dan keteladanan sosok yang berjuang tiada henti memperjuangkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Nilai pengorbanan yang menonjol dari seorang sosok manusia yang memaknai hidup dengan penuh perjuangan. Berikut adalah 4 dari “15 of Nelson Mandela’s best quotes yang dilansir oleh USA today news.”  Mencoba memahami kata-kata bijak tersebut dalam aplikasi dunia kita nampaknya akan menambah senyum damai almarhum di dunia yang fana.

1.         “It always seems impossible until it’s done”.

           Banyak orang menyerah dan mengeluh untuk berjuang sebelum melakukan sesuatu. Banyak orang pesimis terhadap masa depan organisasi yang sedang kita geluti karena banyaknya hal yang tidak sesuai dengan prinsip hidup kita. Nelson Mandela mampu mengubah negara dengan segala perjuangan dan pengorbanannya. Bukan hal yang tidak mungkin untuk mengubah organisasi sebelum kita berbuat.

2.         “Real  leaders must be ready to sacrifice all for the freedom of their people”.

            Mandela siap berkorban untuk kebebasan rakyat pengikutnya. Pemimpin sejati selalu siap berkorban untuk anak buah. Bukan mencari penghasilan yang paling banyak, bukan dilayani dengan segala kemewahan namun sebaliknya pemimpin sejati adalah yang paling banyak melayani anak buah. Meskipun terkesan membual, namun sejatinya pemimpin dibentuk untuk itu karena balasan di akherat akan lebih menjanjikan daripada balasan bergelimang harta di saat purna.

3.         “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world”
            Memperbaiki organisasi adalah pekerjaan yang kecil bila dibandingkan perjuangan Mandela merubah negara. Pendidikan ternyata adalah senjata yang paling ampuh untuk memajukan organisasi. Sehingga melalui pendidikan lah organisasi ini bisa menjadi besar dan mampu menjadi “the first class air force in the world.”   
      
4.         “A good head and good heart are always a formidable combination”.

            Perpaduan antara kecerdasan Intelektual ,kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional merupakan kombinasi yang luar biasa bagi seorang pemimpin sejati. Keseimbangan antara akal dan hati mencerminkan kematangan dan kestabilan seorang pemimpin di masa ini. Banyak orang yang pinter namun tidak berhati mulia, demikian juga sebaliknya banyak yang berhati mulia namun tidak pinter.


            Kita menyadari bahwa manusia tiada yang sempurna, karena kesempurnaan itu bukanlah milik manusia. Namun demikian mari kita gunakan hati dan pikiran kita untuk menjadi seorang pemimpin yang berkarakter guna mencari ridlo Nya.

Senin, 02 Desember 2013

Membangun Organisasi Perang Dengan Pendidikan

Membangun Organisasi Perang Dengan Pendidikan
Oleh: TNC

“Pendidikan merupakan salah satu pilar utama dalam melahirkan sumber daya manusia yang merupakan faktor utama penentu warna dan kemajuan sebuah organisasi perang.”

            Profesi pengajar dan pendidik merupakan profesi luhur yang begitu indah. Indah untuk mendapatkan pahala dunia dan akherat dengan amal jariyah ilmu yang bermanfaat, serta indah untuk memberi warna generasi penerus yang pembaharu dalam organisasi kedepan.  Selama dua tahun berdinas berdinas di lembaga pendidikan banyak sekali point of interest yang dapat saya cermati untuk dikembangkan menjadi sebuah kajian menarik dalam mewujudkan konsep pendidikan kedepan yang lebih baik.
            Pola pendidikan dalam lingkungan militer mempunyai ciri khas tersendiri yang tidak dapat disamakan dengan pola pendidikan non militer. Pendekatan tugas pengabdian yang mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau kelompok memerlukan indoktrinasi yang menggabungkan beberapa basic knowledge dalam sebuah pola pendidikan yang terpadu. Mengingat pentingnya sebuah lembaga pendidikan dalam keberlangsungan organisasi kedepan, perlu kita bahas pemahaman prinsip – prinsip yang mungkin masih belum kita perhatikan secara seksama dalam pola pendidikan militer kita.

Pentingnya Sebuah Kegiatan Rekrutmen
            Berbicara mengenai proses pendidikan tidak bisa terlepas dari bahan dasar dan proses. Sebagai ilustrasi, guna memperoleh hasil sajian yang istimewa, seorang master chef membutuhkan bahan dasar masakan yang istimewa. Cara memperoleh bahan dasar masakan tersebut pun juga tidak bisa dilaksanakan dengan asal asalan. Mereka akan menyeleksi sayuran yang berkualitas dengan tingkat keseriusan yang tinggi sehingga mendapatkan jenis sayuran yang dapat diolah dengan mudah dan menghasilkan masakan yang istimewa.             Demikian halnya dalam proses perekrutan calon prajurit TNI. Manakala sebuah proses perekrutan dilaksanakan dengan mengutamakan prinsip transparansi dan akuntabilitas, maka sudah barang tentu akan menghasilkan sumber daya manusia yang handal dalam mengawaki organisasi kedepan.
            Pembentukan tim seleksi independence langsung dibawah Kepala Staf merupakan salah satu opsi dalam rangka menunjukkan komitmen dan keseriusan organisasi dalam menyiapkan generasi pembaharu yang berkualitas. Terjun langsung ke masyarakat, guna mendapatkan Soedirman kecil yang mungkin masih bertebaran di pelosok tanah air.
            Terlebih apabila prinsip transparansi hasil test diterapkan sebagai fungsi check and balance sudah barang tentu organisasi akan menuai hasilnya di kemudian hari. Panitia pun akan enggan untuk bermain api bila hasil dapat di akses oleh semua peserta. Semua peserta berhak menjadi pengawas system seleksi yang bersih jujur dan transparan.
Selanjutnya sebagai bentuk preventif sekaligus represif,  pemberian sangsi  tegas terhadap adanya pelanggaran segala bentuk gratifikasi, dan kecurangan dalam proses seleksi akan menghambat proses pembentukan organisasi perang monarkhi yang perekrutan personelnya berdasarkan unsur kekerabatan dan kedekatan.

Lemdik Tempat Berkumpulnya Personel Terbaik
            Setelah proses untuk mendapatkan input kita perbaiki, maka input yang berkualitas akan kita dapatkan. Sehingga simultan dengan perbaikan proses tersebut, harus kita wujudkan impian lembaga pendidikan sebagai centre of excellent, dimana siswa akan melihat dan belajar dari personel-personel organisasi yang berkualitas serta memiliki dedikasi, integritas yang tinggi untuk organisasi.
            Guna mendapatkan tenaga pendidik yang berkualitas maka penempatan personel di lembaga pendidikan harus melalui seleksi yang seksama. Banyak referensi pendidikan militer, baik di dalam maupun di luar negeri yang mewajibkan lulusan terbaik dalam sebuah kursus atau sekolah untuk menjadi pengajar dalam waktu yang singkat pada almamaternya tersebut. Namun demikian kompensasi / reward yang diberikan kepada personel tersebut, juga harus diperhatikan oleh organisasi.
            Demikian coretanku di hari libur ini, semoga bermanfaat bagi diriku untuk menjaga konsistensi dan syukur-syukur dapat bermanfaat bagi orang lain yang membacanya.


“ Mencintai tempat kita bekerja sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat Allah dengan berbuat bukan menghujat “

Senin, 19 Agustus 2013

Relevansi Slogan Safety First Pada TNI AU

Relevansi Slogan Safety First  Pada TNI AU
Oleh : TNC


“Kegiatan latihan tanpa terjadinya kecelakaan pada masa damai , juga menunjukkan kemampuan organisasi perang pada masa perang.”


            Angkatan perang adalah salah satu organisasi yang dibentuk untuk mempertahankan kedaulatan bangsa dan negara dengan segala resiko. Sehingga anggota Angkatan Perang pun disiapkan untuk menghadapi berbagai macam resiko yang terdiri dari berbagai bentuk resiko dan tingkat resiko. Salah satu resiko tersebut adalah keselamatan baik jiwa maupun material. Hal ini lebih kita kenal dengan istilah safety. Perkembangan dari waktu kewaktu, manusia mulai menempatkan safety sebagai sebuah tuntutan dalam kehidupan. Hal ini sesuai dengan teori Maslow dimana menempatkan rasa aman sebagai tingkatan kebutuhan dasar manusia.

            Slogan Safety First telah kita kenal di lingkungan TNI AU dalam waktu yang cukup lama. Selain kita mengadopt dari angkatan perang negara lain slogan ini juga merupakan hasil dari langkah antusias organisasi untuk mentriger program keselamatan terbang dan kerja. Slogan ini terlihat cukup bagus, akan tetapi sebenarnya kurang begitu tepat. Sehingga beberapa negara lain pun sudah tidak menggunakan slogan ini dalam organisasi. Beberapa alasan dan pertimbangan bahwa tidak ada satupun organisasi perang di dunia yang menempatkan safety sebagai tujuan utama. Apabila kita menempatkan safety sebagai tujuan utama dari organisasi maka jangan ijinkan pesawat kita di terbangkan, maka kita akan mencapai safety sebagai tujuan utama organisasi.

            TNI AU sebagai organisasi perang dibentuk dengan misi dan tugas pokok. Sedangkan slogan “safety first “ akan menempatkan safety sebagai prioritas  utama. Hal ini akan membentuk kesalahan pola pikir secara esensi dan filosofi. Sesungguhnya Safety bukanlah tujuan utama. Akan tetapi, kita seharusnya memahami safety sebagai suatu tujuan yang sangat sesuai dengan tujuan organisasi pada beberapa hal. Pada dasarnya safety mempunyai peran dalam mendukung misi dan tugas pokok serta membantu kita untuk mencapai tujuan organisasi kita secara efektif. Pada dasarnya safety adalah sebuah metode “controlling costs”.  Costs disini bisa diartikan sebagai segala kemampuan dan kekuatan TNI AU baik berupa materi (alutsista) maupun non materi (personel). Sehingga dengan safety kita akan dapat melaksanakan misi kita dengan menjamin kerusakan yang minim pada alutsista serta korban pada personel organisasi. Fungsi management organisasi harus selalu mengembangkan metode yang paling efektif untuk menyelesaikan misi dengan resiko yang paling kecil. Dengan paradigma baru safety ,  para komandan, perwira safety harus mampu memotivasi untuk memanage dan mempertahankan safety sembari mencapai kesuksesan misi dan tugas pokok organisasi. Bagaimana orang menilai organisasi kita siap operasi dan diawaki atau dimanage oleh personel yang profesional bila tingkat incident maupun accident cukup tinggi. Sehingga, pada dasarnya pola pikir ini yang perlu kita kedepankan untuk menyamakan visi seluruh anggota organisasi.Bukan menempatkan visi safety first yang mengakibatkan kesalahan filosofi pemahaman kedepan. Tugas pokok dan misi adalah utama dengan tetap menjamin upaya meminimalisir terjadinya incident maupun accident.

            Kedepan kita harus berusaha untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan operasional dengan menjamin tingkat pencapain zero accident. Tentunya personel tidak akan mempunyai integritas yang tinggi untuk mewujudkan tugas pokok dan misi organisasi bila tidak ada jaminan dan upaya konkrit dari organisasi untuk berkomitmen memanage tingkat resiko yang dihadapi. Kompleksitas permasalahan pencapaian zero accident di organisasi kita cukup kompleks. Mulai dari budaya sampai dengan integritas moral dalam melaksanakan tugas sesuai dengan aturan dan prosedure yang berlaku. Sinergi dan semangat bersama antara pelaksana operasi, penyiap pesawat, pengadaan barang dan pengambil kebijakan yang dilandasi tanggung jawab moral kepada anak istri dan Tuhan YME merupakan pijakan awal untuk menuju keselamatan terbang dan kerja yang bermuara pada kesiapan operasional organisasi TNI AU.

            Dalam kesempatan ini mari kita mencoba memahami beberapa prinsip safety yang diharapkan mampu memberikan pemahaman yang tepat tentang safety bagi personel pada khususnya dan bermanfaat bagi organisasi TNI AU kedepan.

Zero Accident  is Achieveable Goal

            Perlu kita pahami bersama bahwa,  human error merupakan faktor yang selalu hadir dalam dalam diri manusia. Sehingga tidak terjadi nya accident atau incident dalam sebuah organisasi sepertinya menjadi sesuatu hal yang susah untuk dihindari.

            Namun demikian Zero accident  adalah sesuatu kepercayaan yang harus kita jadikan acuan yang mendarah daging untuk dapat dicapai. Dengan memegang prinsip ini diharapkan akan membentuk kerangka berpikir dan mind set serta langkah-langkah yang tepat yang diambil secara pro active untuk mencegah potensi terjadinya accident di kemudian hari. Dengan memahami  ciri –cir dari accident , serta mengambil langkah-langkah pencegahannya maka kita yakin bahwa kecelakaan dapat dicegah.

            Kecelakaan harus kita pahami sebagai hasil dari ancaman-ancaman yang lolos ataupun berbagai bentuk error yang tidak terdeteksi ataupun terlambat untuk di deteksi sehingga terjadi kondisi yang lebih buruk. Sebuah kecelakaan dapat dicegah jika langkah-langkah antisipasi dan koreksi telah diambil pada waktu yang tepat untuk mengurangi ancaman dan eror tersebut. Sehingga pemahaman terhadap penerapan mangemen eror dan ancaman (Threats and errors management) menjadi sangat penting dalam usaha pencapaian “zero accident”.

            Sehingga zero accident adalah sebuah tujuan yang harus kita jadikan acuan tanpa meributkan dan memperdebatkan hasil, namun lebih mengutamakan proses usaha dan keseriusan dalam pencapaiannya. Karena sejatinya kita bersama ingin selamat, baik di dunia maupun di akherat.

Zero Accident  adalah Indikator kemampuan dan kesiapan Operasional

            Seperti yang telah diuraikan diatas bahwa, kemampuan operasional organisasi dapat dilihat dengan tingkat pencapaian zero accident. Bagaimana kita akan siap perang bila tingkat incident dan accident tinggi. Bila dalam kondisi damai kita masih belum mampu untuk mengontrol dan memanage tingkat resiko yang dihadapi, maka dalam kondisi perang dimana organisasi ini sejatinya dipersiapan sudah barang tentu kita tidak akan mampu mempertontonkan kemampuan dan kesipan operasional.

       Kemampuan operasional (operational capability) dan zero accident mempunyai hubungan yang sangat erat. Langkah-langkah untuk meningkatkan safety  mungkin bukanlah cara yang paling efektif untuk melaksanakan kemampuan operasi. Akan tetapi, penerapan safety akan mengurangi kemungkinan terjadimya kecelakaan pada personel dan peralatan. Dengan tercapainya zero accident , gangguan terhadap organisasi yang disebabkan oleh kecelakaan akan minim, sehingga organisasi akan mampu berfungsi dengan kapasitas dan kapabiltas yang lebih tinggi.

     Program pencegahan kecelakaan yang baik akan mengurangi terjadinya kecelakaan. Ketika terjadinya kecelakaan, fungsi management organisasi akan melaksanakan review. Secara otomatis moral dan kepercayaan akan terpengaruh. Selanjutnya, performa organisasi akan menurun sebagai hasil pengurangan dari komplesitas latihan, penerapan aturan baru dan  peningkatan fungsi supervisi. Kebalikannya, sebuah unit atau organisasi dengan pencapaian zero accident akan dapat berkonsentrasi lebih dalam pengembangan dan peningkatan kemampuan operasional.

        Latihan tanpa terjadinya kecelakaan pada masa damai ,menunjukkan kemampuan organisasi pada masa perang. Jika TNI AU mampu mencapai zero accident pada masa damai, maka TNI AU akan dapat menggunakan kemampuan skill organisasi untuk fokus terhadap usaha-usaha pencapaian kesuksesan misi dan zero accident selama masa perang. Keselamatan dan operasi – operasi yang efektif pada masa damai menuntut personel TNI AU untuk disiplin dan professional. Hal ini juga berlaku pada peningkatan operational capability pada masa perang.


Incident Reporting adalah keharusan untuk pencegahan Kecelakaan

         Incident Reporting adalah tanggung jawab moral. Melaporkan terjadinya incident adalah perwujudan tingkat moralitas manusia agar kejadian serupa  atau potensi yang lebih buruk tidak akan terjadi kembali pada rekan kita.  Untuk menjadikan budaya lapor dalam rangka upaya pencegahan kecelakaan, organisasi perlu membuka system laporan terbuka dimana iklim, procedure dan budaya bukan lagi menjadi hambatan bagi seluruh personel untuk terlibat secara pro aktif. Adanya laporan tentang incident membantu proses identifikasi kelemahan system dan area yang beresiko tinggi. Fungsi manager yang diperankan oleh perwira safety dan komandan selanjutnya berkewajiban untuk menganalisa dan menentukan langkah untuk mengurangi tingkat resiko tersebut. Sesuai dengan H.W Heinrich Triangle Theory bahwa setiap satu kecelakan major injury diawali dengan 29 minor injuries dan 300 no injuries accident. Sehingga untuk menanggulangi terjadinya kecelakaan (accident) perlu kita konsentrasi terhadap pelaporan dari no injuries accident, sehingga proses antisipasi dapat diambil sedini mungkin.      

Kesimpulan

      Sebagai kesimpulan akhir, bahwa  pola pikir dan semangat pencapaian (mind set building) inilah yang perlu kita samakan. Perlu kiranya ada sebuah mission statement yang clear and defined structured. Jelas, mudah dimengerti dan seragam oleh seluruh satuan dari sabang sampai dengan merauke. Sehingga tidak ada lagi yang menulis slogan dan mempunyai persepsi sendiri-sendiri dan beraneka ragam tentang arah kebijakan safety di organisasi TNI AU. Sehingga pencapaian operational capability dengan memegang prinsip-prinsip safety akan tercapai secara efektif, efisien dan tepat sasaran.






Rabu, 14 Agustus 2013

Menciptakan Air Sovereignty Wilayah Udara Pulau Papua

Menciptakan Air Sovereignty  Wilayah Udara Pulau Papua
Oleh: TNC

                                                                                                                         
“Dalam menghadapi keadaan yang bagaimanapun juga serta dalam menghadapi apapun juga, JANGAN LENGAH. Karena kelengahan menyebabkan kelemahan, kelemahan menyebabkan kekalahan dan kekalahan berarti PENDERITAAN
 (Panglima Besar Jendral Sudirman)


Tinjauan Umum
            Sejarah panjang dan berliku perebutan Irian Barat dikenal dalam sejarah kita sebagai Operasi Trikora yang terjadi pada tahun 1963. Perebutan wilayah tersebut tidak terlepas dari kondisi alam pulau yang lebih dikenal sebagai Pulau Papua yang kaya dan berlimpah akan biji tembaga,perak bahkan emas. Tidak heran catatan sejarah menunjukkan bahwa beberapa negara besar berada di balik proses kembalinya Irian Barat ke pangkuan NKRI. Mengingat tingginya tingkat daya tarik sekaligus daya pikat wilayah tersebut, sudah barang tentu wilayah tersebut akan selalu diperebutkan dalam arti luas oleh berbagai pihak. Irian Barat selanjutnya pada era orde baru dikenal dengan sebutan Irian Jaya. Kemudian perkembangannya menjadi Propinsi Papua Barat dengan ibukota Manokwari dan Propinsi Papua dengan ibukota Jaya Pura. Kedua propinsi ini sama-sama mendapatkan otonomi khusus dari pemerintah pusat.

        Mengingat kondisi alam Pulau Papua yang sebagian besar di dominasi oleh pegunungan dan hutan tropis, membuat wilayah ini kaya akan sumber daya alam sekaligus susah untuk dijangkau dengan sarana transportasi darat. Beberapa wilayah terpisahkan oleh gunung dan alam yang tidak mudah untuk dicapai dan membuat wilayah ini mempunyai ketergantungan yang cukup tinggi terhadap pesawat udara sebagai media tranportasi. Alhasil, media udara menjadi sangat krusial untuk dijaga kedaulatannya oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia. Wilayah NKRI paling timur ini berbatasan langsung dengan negara Papua New Guinea (PNG) sedangkan beberapa negara Asia Pasifik dan Australia terbentang di sekitarnya.

          Melihat media udara sebagai jalur keluar masuk segala aspek, harus membuat kita lebih waspada dan tidak lengah akan datangnya ancaman dari dalam yang sejatinya berasal dari luar. Banyaknya landasan perintis di lereng-lereng bukit membuat mobilitas udara di Pulau yang dipenuhi hutan perawan tersebut susah untuk di deteksi. Dalam pembahasan kali ini, mari kita coba bersama memahami arti penting sebuah kedaulatan udara di wilayah Papua pada khususnya, guna mengantisipasi kelengahan kita yang mungkin dapat berakibat penderitaan seperti kata mutiara Pangsar Sudirman beberapa puluh tahun yang lalu.

Memahami Arti Kedaulatan Udara Sebuah Negara
            Mantan KSAU, Marsekal purn Chappy Hakim pernah menyatakan, bahwa “Kedaulatan udara akan mendukung pembangunan menuju kemakmuran masyarakat, air security will bring prosperity”. Lebih jauh lagi beliau  beranggapan, bahwa kedaulatan udara sama pentingnya dengan kedaulatan lautan. Kurangnya kedaulatan di laut mengakibatkan terjadinya praktik perikanan ilegal dan pencurian sumber daya alam yang nilai kerugiannya bisa sampai triliunan rupiah per tahun. “Di udara kerugiannya juga banyak. Orang akan bebas terbang di wilayah kita, mengangkut barang atau orang seenaknya,”[1] .

         Konvensi Paris tahun 1919 menyatakan bahwa ruang udara di atas daratan dan perairan territorial suatu negara merupakan bagian yang tidak terpisahkan dan eksklusif dari kedaulatan negara yang bersangkutan. 

“Air Sovereignty mision is The integrated tasks of surveillance and control, the execution of which enforces a nation's authority over its territorial airspace.” (US Military DOD)

            Oleh karenanya dalam upaya penggunaan kekuatan udara (air power) untuk mencapai dan menjaga kedaulatan udara paling tidak sebuah negara harus mempunyai kemampuan control of the air, air strike, air support dan kemampuan ekploitasi informasi.[2] Sedangkan derajat kemampuan pengendalian Udara (control of the air) dapat diklasifikasikan sebagai berikut :         

1.        Keadaan Udara yang Menguntungkan (Favourable Air Situation). Keadaan ini diindikasikan dengan tingkat kekuatan udara lawan yang diperkirakan tidak cukup mampu menghadapi kekuatan udara kita, baik dioperasikan secara mandiri maupun gabungan dengan kekuatan darat dan laut.

2.         Keunggulan Udara (Air Superiority). Keadaan ini digambarkan dari derajat dominasi kekuatan udara kita pada suatu pertempuran udara terhadap kekuatan udara musuh,sehingga kekuatan udara musuh bukan sebagai ancaman serius di atas suatu wilayah dan dalam jangka waktu tertentu.

3.         Supremasi Udara (Air Supremacy). Keadaan ini ditandai dengan kondisi kekuatan udara lawan yang sama sekali bukan merupakan suatu ancaman bagi kekuatan udara kita maupun terhadap kedaulatan nasional atau terhadap operasi darat, laut, dan udara yang sedang dilaksanakan.

            Dari klasifikasi kondisi diatas tentunya kita berharap mencapai kondisi Supremacy (Air Supremacy) dimana kekuatan udara di sekitar wilayah Pulau Papua sama sekali bukan ancaman bagi kedaulatan nasional kita. Namun demikian,  pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah, pertama , apakah kita sudah mempunyai kemampuan control of the air di wilayah udara Papua pada khususnya? Dan pertanyaan kedua, apabila sudah, masuk ke klasifikasi yang mana kah ?

Kedaulatan Udara Di Wilayah Papua

            Selanjutnya mari kita tengok kondisi kemampuan control of the air kita di wilayah udara tersebut sehingga kita bisa menilai dimanakah posisi klasifikasi kita berada.

  1.         Kemampuan reconnaissance dan surveillance.

           TNI AU sebagai kekuatan Inti dalam penegakan kedaulatan negara di udara telah melaksanakan tugas dengan baik, terbukti telah beberapa kali mendeteksi dan mengadakan penindakan terhadap adanya penerbangan gelap yang melintas di wilayah udara kita. Pada tahun 2012, dua pesawat tempur Sukhoi menghentikan pesawat asing yang melintas di wilayah udara Indonesia tanpa ijin. Pesawat jenis Cessna 208, N-354 RM, dengan pilot Michael E.Boyd, berkewarganegaraan AS dengan tujuan dari negara kecil di kawasan Pasifik ,tepatnya di utara Papua menuju ke Singapura, telah dipaksa mendarat di lanud Balikpapan. Selanjutnya pada tahun sebelumnya , tahun  2011, Kohanudnas mencegat pesawat jet P2-ANW Dassault Falcon 900 EX yang ditumpangi wakil Perdanan Menteri Panua New Geuni (PNG) Belden Namah yang melintas tanpa izin. Hal tersebut telah menunjukkan kepada dunia Internasional bahwa kita memang serius dalam menegakkan Kedaulatan Udara kita.

          Namun demikian, tantangan ke depan adalah deteksi dan penindakan  tidak hanya terhadap pesawat-pesawat pengintai siluman yang mempunyai kemampuan supersonic tapi juga ancaman asimetric dari pesawat-pesawat komutter yang bergerak bebas di sela-sela bukit terjal dari satu landasan perintis menuju ke landasan perintis lain. Kontrol terhadap muatan, misi dan kegiatan yang mereka lakukan di puncak bukit dengan ketinggaian rata-rata diatas 6000 feet membuat kegiatan intelegence,Surveillance, and Reconaissance (ISR) Operation  kekuatan lawan (anti pemerintah)  mudah dilaksanakan.

        Infiltrasi ,indoctrinasi disintegrasi, dan culture building melalui penerjunan personel yang berkedok sebagai turis dan missionaries merupakan ancaman yang harus ditanggapi dengan serius.

           Selama ini system radar militer yang kita gunakan di wilayah timur adalah jenis Primary Surveillance Radar (PSR) jenis Master-T dari Perancis. Konsep pertahanan yang kita gunakan selama ini mempunyai sinergi dengan radar sipil yang digunakan oleh beberapa bandara udara yang pada umumnya berupa Secondary Surveillance Radar (SSR).

          Bebasnya pesawat-pesawat komuter yang berkeliaran di daerah pedalaman, mengindikasikan bahwa kita masih belum maksimal dalam fungsi reconnaissance dan surveillance sehingga masih lemah dalam penindakan.

 2.         Lack of Air Power deterrence effect
            Secara teori , konsep kehadiran kekuatan militer dalam suatu wilayah dalam arti untuk menjaga kedaulatan merupakan hal yang sah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Berbeda dengan pengerahan kekuatan militer dalam konteks penyelesaian masalah atau konflik. Bila kita melihat kekuatan udara kita di wilayah timur, sebagian besar di cover oleh kekuatan udara yang berada di Pulau Sulawesi. Hal ini dilaksanakan dengan menganut konsep bahwa kekuatan udara yang berada di home base tersebut mampu melaksanakan fungsi operasi dan penindakan dengan karakteristik keunggulan udara.

     Melihat kondisi tersebut, membuka peluang bagi pihak-pihak tertentu yang berkepentingan dengan peluang disintegrasi dan kolonialisme modern untuk melaksanakan asimetric warfare dengan menggunakan berbagai macam sendi kehidupan, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan keamanan. Ancaman tersebut bisa kita perkecil dengan menghadirkan kekuatan deterrence effect bagi pihak yang akan menggunakan media udara sebagai peluang untuk mendukung kegiatan infiltrasi dalam arti luas.

        Penggelaran kekuatan udara di wilayah tersebut selama ini kita perhatikan sebagai sebuah kegiatan operasi dan latihan rutin yang dapat diketahui secara pasti kapan akan dilakukan bahkan alutsista apa dan berapa jumlahnya yang akan dilaksanankan. Masih jauh panggang dari api untuk mencapai tujuan hakiki menuju air supremacy.
                                 
Potensi Dan Ancaman Kedepan
            Berdasarkan pengalaman pribadi sebagai seorang penerbang yang sering beroperasi di wilayah  udara Papua, saya tidak bisa memastikan bahwa di tengah hutan belantara sana terdapat sebuah tempat dimana kekuatan asing sedang menyusun sebuah sarang lebah. Bahkan ketika sahabat saya menjadi korban jatuhnya pesawat Heli kurang lebih 20 s.d 25 Nm dari Lanud Jayapura ,Sentani, kita membutuhkan waktu berbulan –bulan untuk menemukannya karena faktor kondisi medan yang susah untuk ditembus dan diamati. Menggambarkan tinggi nya faktor kesulitan mendeteksi kekuatan sendiri. Bisa dibayangkan bagaimana kemampuan kita terhadap deteksi kekuatan pihak lain yang sengaja disembunyikan.

            Sangat Ironi dengan sejarah yang menunjukkan warga negara bangsa lain yang telah mampu menemukan dan akhirnya berhasil mengekploitasi hasil sumber daya alam alam tersebut untuk banyak kepentingan asing dan sedikit kepentingan bangsa kita.  Sehingga tidak lah salah bila seorang direktur Freeport Sulfur, Forbes Wilson, dalam bukunya yang berjudul The Conquest of Cooper Mountain, Wilson menyebut gunung tersebut sebagai harta karun terbesar, yang untuk memperolehnya tidak perlu menyelam lagi karena semua harta karun itu telah terhampar di permukaan tanah.
 Potensi lain dari wilayah ini adalah , tingkat budaya yang memegang prinsip-prinsip adat yang sangat kuat.  Dimana pemuka adat merupakan sosok yang sangat dihormati dan dikagumi bagi warganya. Sehingga sejarah panjang rakyat Papua yang telah diduduki oleh kolonialisme Belanda dan bentuk kolonialisme modern mampu menumbuhkan semangat kejuangan untuk melepaskan diri dari NKRI.

Beberapa ancaman selanjutnya yang dapat terjadi dengan adanya potensi tersebut diatas adalah sebagai berikut :

 1.         Ancaman Disintegrasi.  Beragamnya suku yang kental dengan adat ditambah dengan sejarah panjang pendudukan kolonialisme yang dirasa tidak berpihak pada kesejahteraan rakyak di daerah membuat wilayah ini rentan terhadap hasutan dan keinginan untuk lepas dari NKRI.  Sebuah teori konspirasi yang muncul adalah lepasnya Papua dari NKRI akan menguntungkan beberapa pihak yang sekarang sedang mengeruk kekayaan alam di wilayah tersebut. Hembusan gerakan separatis yang membawa isu pelanggaran HAM, otonomi khusus perlu diwaspadai sebagai bentuk baru proses “invasi modern”.

2.         Pelanggaran Wilayah Udara. Kelonggaran wilayah udara dapat berbuah pelanggaran wilayah suatu daerah kedaulatan. Diawali dengan masuknya pengaruh asing terhadap penduduk pribumi di pedalaman dan puncak gunung , akan berakhir dengan pergerakan masyarakat yang didasari oleh kesamaan semangat hidup.  Faktor geologi dan demografi membuat media udara menjadi alternative masuknya berbagai paham dan kepentingan.

3.     Ilegal logging. Kekayaan hutan yang begitu besar berpotensi untuk perkembangan illegal logging. Beberapa faktor yang menyebabkan tingginya tingkat pelanggaran illegal logging adalah tingginya tingkat permintaan produk kayu yang dipasok dari pasar gelap, lemahnya daya jangkau penegak hukum, dan tingkat kemiskinan yang tinggi di kalangan pelaku penebang liar. Hampir seluruh faktor tersebut dipenuhi di wilayah pedalaman Papua saat ini.


  
Berbenah Untuk Air Souveregnity
            Langkah selanjutnya adalah tidak lain untuk selalu berfikir untuk mengamati perkembangan Dan mengambil langkah strategis kedepan untuk mempertahankan kedaulatan dan kemajauan negara yang kita cintai ini. Beberapa langkah yang mungkin dapat membenahi kondisi kedaulatan udara di wilayah udara adalah sebagai berikut :

 1.         Peningkatan Kemampuan Intellegence Surveillance and Reconaissance (ISR).

“ The fundamental responsibility of ISR is to provide intelligence information to decision makers at all levels of command to give them possible understanding of the adversary”.[3]

         Pihak pembuat keputusan dalam segala level strata, baik sipil maupun militer pada dasarnya membutuhkan informasi yang teraktual, terpercaya dan terkini dalam proses pengambilan keputusan maupun kebijakan. Salah satu fungsi tersebut dapat dicapai dengan menggunakan kekuatan udara yang saat ini telah berkembang dengan pesat. Apabila jaman revolusi Perancis mereka menggunakan balon udara untuk mengetahui kondisi musuh, maka beberapa negara dengan perkembangan tehnologi saat ini sudah memanfaatkan pesawat udara, UAV (Unmaned Air Vehicle) bahkan satelit untuk mendapatkan informasi kawan maupun lawan. Begitu pentingnya informasi untuk pencapaian kepentingan kedaulatan udara harus disikapi dengan serius untuk mewujudkan kemampuan control of the air. Sehingga dalam rangka menunjang kemampuan control of the air, perlu kita meningkatkan kemampuan pengamatan dan pengintaian udara guna mengontrol kedaulatan kita di udara.

         Sebagai bagian usaha dari peningkatan fungsi deteksi radar yang sudah ada, perlu adanya peningkatan fungsi dengan mendorong pengembangan teknologi satelit militer yang sedang digarap oleh LAPAN. Peluncuran roket RX 550 yang nantinya diharapkan mampu mengorbitkan satelit militer yang akan membawa pencerahan dalam monitoring pelanggaran serta menjadi mata kekuatan pertahanan kita dalam menegakkan kedaulatan.

           Selain daripada itu, unsur kekuatan penindakan juga menjadi komponen penting dalam mewujudkan sebuah deterrence effect bagi pihak dari dalam dan luar yang berkehendak memanfaatkan kelonggaran media udara ini.
                       
             Oleh karenanya kekuatan pesawat pengintai baik berawak maupun tanpa awak merupakan salah satu solusi dalam membangun kemampuan ISR yang mempunyai kemampuan real time. Dalam rangka sinergi untuk kepentingan yang lebih luas perlu dikembangkan kemitraan komponen inti, cadangan dan pendukung dalam proses pengembangannya. Sehingga akan tercipta sinergi pola pikir untuk pencapaian tujuan nasional.
        2.        Pengembangan Kekuatan Udara di Wilayah Indonesia Timur. Pengembangan kekuatan kearah Indonesia timur, bukan sekedar mengantisipasi ancaman dari dalam negeri. Negara-negara Pasifik dan Australia sebagai negara tetangga yang berbatasan di wilayah timur bukan sebagai ancaman negara musang namun lebih kearah kekuatan yang perlu kita galang sebagai kekuatan bersama dalam menjaga kestabilan dan keamanan wilayah demi kepentingan bersama.

                    Terlebih kita harus sadar bahwa, di Papua ini terdapat sumber daya alam yang sangat luar biasa. Pegunungan dengan kandungan bijih tembaga, perak dan emas yang saat ini sedang “dinikmati bersama oleh dunia”, serta kekayaan hutan tropis yang kaya dengan kandungan alam. Alhasil , sudah barang tentu teori ada gula ada semut tidak bisa dinafikkan lagi. Dengan segala bentuk imperialisme dan kolonialisme modern negara kita harus waspada dan tidak boleh lengah sedikitpun. Demokrasi, HAM merupakan senjata ampuh bagaikan dua sisi sebilah pisau. Dimana masuknya pemahaman negative dari nilai tersebut dapat dimasukkan melalui lemahnya kedaulatan udara kita di wilayah Papua.

                Kehadiran sebuah kekuatan air power di wilayah tersebut, merupakan langkah kongkret yang akan berdampak terhadap deterrence effect kekuatan lawan yang dapat memanfaatkan kelengahan. Paling tidak satu kekuatan Skadron Tempur dengan dukungan Skadron UAV (Unmanned Air Vehicle) merupakan salah satu alternative yang diharapkan mampu membentuk kemampuan control of the air di wilayah kedaulatan udara tersebut.



            3.         Sinergi Pemerintah Daerah Dan TNI
                       Propinsi Papua Barat Dan Papua sebagai daerah yang mempunyai kewenangan otonomi khusus mempunyai kewenangan dalam menentukan kebijakan wilayah yang berbasis pada kesejahteraan rakyat. Otonomi daerah sebagai buah reformasi telah membuat kebijakan pengelolaan keuangan negara yang semula sentralistik menjadi terdesentralisasi. Desentralisasi fiscal di negara kita dilakukan dengan pemberian diskresi belanja daerah yang luas dengan didukung oleh pendanaan dari pusat ke daerah.[4] Artinya bahwa pemerintah pusat akan transfer dana kepada pemerintah daerah sebagai wujud tranparansi alokasi sumber daya nasional yang nantinya akan tertuang dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Sehingga hal ini menuntut daerah otonom untuk berusaha meningkatkan perekonomian daerah dengan memanfaatkan ciri khas dan keutamaan sumber perekonomian daerah.

                   Salah satu alternative langkah dalam mewujudkan sinergi antara pemerintah daerah dengan TNI sebagai kekuatan inti pertahanan adalah dengan rencana pembelian pesawat udara dalam rangka menunjang kepentingan daerah.  Beberapa keuntungan yang akan bisa di dapat adalah sebagai berikut :

            1)         Mendukung distibrusi kebutuhan bahan pokok ke daerah pelosok. Beberapa daerah otonom mempunyai bandara perintis yang tersebar di pelosok pegunungan. Susahnya mencapai wilayah pasar membuat harga membumbung tinggi. Ketersediaan barang pun juga sangat rendah. Biaya pengiriman cukup mahal karena satu-satunya moda transportasi yang dapat digunakan adalah pesawat udara.
                 Dengan memiliki pesawat sendiri, Pemerintah daerah diharapkan mampu mendorong sekaligus mengkontrol harga pasar sehingga tidak merugikan rakyat sekaligus turut dalam upaya memajukan supra struktur dan infrastruktur.

       2)       Optimalisasi Dan Efektifitas Sumber Daya Manusia. Salah satu keuntungan konsep ini adalah tercapainya kerja sama multi role achievement antara TNI dan Pemerintah Daerah. Dengan adanya sinergi kerja sama Pemda dan TNI, Pihak pemerintah daerah tidak akan kesusahan mencari tenaga Pilot untuk pengoperasian pesawat tersebut. Sedangkan TNI akan diuntungkan dengan pemanfaatan jam terbang untuk menunjang profesionalisme skill terbang personelnya. Selain dari dari pada itu para personel yang ditunjuk dari TNI tersebut dapat sekaligus melaksanakan fungsi intelegen bagi kepentingan bangsa dan negara.

            3)         Mendukung Percepatan Pembangunan Infrastuktur. Pesawat udara sebagai salah satu moda transportasi yang paling efektif dalam memenuhi kebutuhan penunjang pemerataan pembangunan di daerah pelosok dan pedalaman hutan belantara di Papua. Dengan kondisi geografis yang sedemikian rupa, akses jalan darat masih belum mampu menghubungkan semua kabupaten, membuat perbedaan harga bahan pokok dan bahan bangunan sangat berbeda jauh. Sehingga untuk mewujudkan percepatan pembangunan infra struktur bagi berlangsungnya pemerintahan dan perkembangan perekonomian daerah yang cukup lambat berkembang perlu adanya moda trnsportasi udara untuk mempercepat proses tersebut.

            4.         Deregulasi Dan law enforcement
            Upaya penegakan kedaulatan tidak pernah lepas oleh adanya perbaikan system dan penegakan aturan oleh kekuatan pemerintah yang berwibawa. Berwibawa dalam arti sesuai dengan hukum, mempunyai keberanian dan ketegasan, serta berpihak terhadap kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi ataupun golongan.       
               
            Segala bentuk alat transportasi udara yang beroperasi di wilayah tersebut harus di data dan dilaporkan sesuai dengan regulasi dan prosedure yang berlaku dimana pemegang core bisnis pertahanan dan keamanan harus dilibatkan secara langsung.

           Disamping itu pengetatan proses imigrasi terhadap personel asing yang berada di wilayah tersebut harus mendapatkan prioritas dari pemerintah pusat .

End Of state
        Sebagai kesimpulan akhir, bahwa perlu kiranya mewujudkan kedaulatan udara di wilayah udara Papua pada khususnya dan wilayah nasional kita pada umumnya. Sehingga proteksi terhadap sumber daya alam nasional untuk kepentingan bangsa dapat dilindungi dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk bangsa kita. Potensi disintegrasi bangsa dapat diantispasi dengan pemerataan pembangunan dan deteksi dini terhadap adanya usaha melalui konsep asimetric  yang memanfaatkan media udara. Proteksi terhadap wilayah negara dan kedaulatan negara baik di darat ,laut dan udara adalah sebuah keharusan demi tercapainya kelangsungan sebuah bangsa dan negara yang berdaulat adil dan makmur.




[2] Vademicum operasi Dan Latihan TNI AU, 2011, hal 326
[3] Air Force Doctrine Document 2-5.2, 21 April 1999, Intellegent, Surveillance, and Reconaissance Operation

[4] UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.