Rabu, 17 April 2013

Pengaruh Konflik di Semenanjung Korea Terhadap Kondisi Perekonomian, Pertahanan dan Keamanan NKRI


Pengaruh  Konflik di Semenanjung Korea
Terhadap Kondisi Perekonomian, Pertahanan dan Keamanan NKRI
Oleh: TNC


War is a continuation of politic by other mean
(Carl Von Clausewitz)

            Perang pada dasarnya adalah kelanjutan dari sebuah perjuangan politik yang sudah tidak bisa diselesaikan dengan jalan damai. Apapun alasannya , belum pernah ada perang yang menyenangkan bahkan menyejahteraan rakyat. Akan tetapi, nampaknya konflik di semenanjung Korea  yang dibintangi oleh actor laga Korea Utara dan Selatan dengan “sutradara” handal negara – negara pendukung mulai mengkawatirkan negara-negara sekitarnya dengan isu yang berkembang.

            Sementara itu konflik kepentingan di wilayah perairan Laut Cina Selatan pun sudah mulai menggelora. Kehadiran negara-negara yang mempunyai kepentingan sudah mulai nampak dengan segala tingkah polah manuvernya. Ketegangan di Laut China Selatan telah berkembang sedemikian pesat dengan berbagai kompleksitas permasalahan dan kepentingan tarik ulur kepemilikan wilayah dan kepulauan di sekitar wilayah perairan tersebut. Teori ada gula ada semut, ada minyak ada ribut tidak bisa di naïf kan lagi. Menurut data yang dikutip oleh Informasi Energi Amerika Serikat (EIA), Cina memperkirakan cadangan minyak di sana sebesar 213 miliar barel atau 10 kali lipat dari cadangan milik Amerika Serikat. Ilmuwan AS memperkirakan jumlah minyak di sana 28 miliar barel. Menurut EIA, cadangan terbesar kemungkinan adalah gas alam. Perkiraannya sekitar 900 triliun kaki kubik, sama dengan cadangan yang dimiliki Qatar. Sehingga sudah jelaslah kenapa beberapa negara di sekitar perairan tersebut saling mengklaim pulau-pulau yang bertebaran diatasnya.

            Kembali kepada permasalahan ancaman terbesar bagi negara sekitar bila dihadapkan dengan kondisi konflik Korut dan Korsel, yang terletak di sekitar perairan Laut Cina Selatan, saat ini adalah kepemilikan senjata nuklir oleh Korea Utara yang menjadi isu utama. Sedangkan Korea Selatan sendiri telah di back up secara penuh oleh negara Amerika Serikat yang memiliki kekuatan pertahanan yang tidak diragukan lagi. Sehingga api ketegangan ini sangat mudah untuk disulut menjadi kobaran api yang siap melahab wilayah sekitarnya. Oleh karena itu pada tulisan ini , perlu kiranya kita kupas pengaruh ketegangan konflik ini bagi negara Indonesia pada perspektif kondisi perekonomian, keamanan dan pertahanan negara.

Sejarah Konflik Kedua Negara

          Sebelum lebih jauh kita mengupas pengaruh konflik ini, perlu kiranya kita flash back ke belakang sejarah  konflik pada jilid satu. Sejarah telah mencatat bahwa kedua negara ini telah terlibat konflik sejak puluhan tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 25 Juni 1950 sampai dengan 27 Juli 1953. Pada masa itu telah tercatat terjadinya perang Korea antara Korea Utara yang didukung oleh Uni Soviet, RRC dengan Korea Selatan yang didukung oleh negara Amerika Serikat, Inggris dan commonwealth countries.


         Kisah cerita diawali pada era perang dunia tahun 1939-45, saat masa depan  kekaisaran Jepang ditentukan oleh pertemuan negara sekutu sebagai penakluk negara Jepang. Detik – detik pengembalian kemerdekaan Korea sebagai salah satu koloni Jepang sejak tahun 1910, bagian utara negara tersebut diduduki oleh Soviet Russia. Sedangkan di bagian selatan, pemerintahan militer Amerika Serikat dibawah pimpinan Jendral D. MacArthur akan mengontrol dari markas besar di Tokyo.

        Sebagai respon dari pembentukan North Korean Peoples’ Army oleh Stalinist regime ,Kim Il-Sung, yang di back up oleh Soviet , Amerika Serikat memback up kondisi chaos politik yang terjadi di bagian selatan dibawah kepemerintahan presiden Syngman Rhee  yang secara terbuka telah menyatakan ingin menyatukan dengan paksa. Dalam kondisi ini, tentara Korea selatan yang dilatih oleh Amerika baru terbatas pada kemampuan terbatas.[i]

      Meningkatnya incident berdarah di perbatasan memicu invasi Korea utara untuk menduduki Korea selatan. Ekskalasi peningkatan ini akhirnya membuahkan resolusi Dewan keamanan PBB yang diprakarsai oleh Amerika Serikat dengan mengklaim Korea Utara sebagai Aggresor. Hal ini ditindak lanjuti dengan pengiriman pasukan dari anggota PBB untuk menghadapi gerakan Korea Utara yang semakin agresif untuk menduduki Pelabuhan utama Pusan.

        Pada perang tersebut, kekuatan Udara (Air Power) sudah sangat menentukan. Kekuatan Udara Korea utara telah dikendalikan oleh superior equipment US Air Force, Navy dan Marines. Heavy bombers menghancurkan kota-kota dan pusat perindustrian Korea Utara. Serangan secara terus menerus memaksa China untuk memanfaatkan pasukan berkuda untuk menggeser dukungan logistic. Fase baru peperangan udara terbuka, ketika pesawat Bomber B-29 yang dikawal oleh pesawat tempur Amerika Serikat berhadapan dengan pesawat Rusia, MiG -15 yang diterbangkan oleh penerbang – penerbang China. Pesawat MiG-15 mampu menyapu pesawat jet Amerika generasi pertama, sampai dengan dikenalkannya pesawat bersayap swept, F-86 Sabre, yang di claim sebagai pesawat combat supersonic pertama di dunia.[ii]

            Sebagai akhir cerita peperangan perbedaan ideologi ini berhenti di atas meja , pada pertengahan 1951. Armistice disepakati dengan beberapa konsekuensi dari kedua belah pihak. Pada bulan Juli 1953, ribuan mantan tahanan dari kedua belah pihak dikembalikan. DMZ (Demilitarised Zone) di tetapkan di daerah perbatasan, kedua belah pihak menarik dari posisi pertempuran diikuti oleh tindakan supervisi dari PBB.

Pengaruh Kondisi Perekonomian

         Kembali pada topic bahasan pengaruh konflik ini terhadap kondisi perekonomian bangsa kita, mari kita perhatikan kerjasama mutualisme yang sudah berlangsung sampai dengan saat ini. Kementerian Perdagangan  menyebutkan sepuluh negara tujuan yang memiliki pencapain ekspor non migas terbesar pada 2012. Ke-10 pasar ekspor utama tersebut berkontribusi sebesar 68,6 persen dari total ekspor non migas. Dari sepuluh pasar tujuan ekspor tersebut, China berada di urutan pertama sebesar USD 20,9 miliar. Kemudian Jepang (USD17,2 miliar), Amerika Serikat (USD14,6 miliar), India (USD12,4 miliar), Singapura (USD10,6 miliar), Malaysia (USD8,5 miliar), Korea Selatan (USD6,7 miliar), Thailand (USD5,5 miliar), Belanda (USD4,6 miliar), dan Taiwan (USD4,1 miliar)[iii]. Korea Selatan adalah Negara ke-7 tujuan ekspor Indonesia dengan nilai yang cukup significant.  Sedangkan China,  Jepang, Malaysia, dan Thailand  adalah negara-negara yang terletak di sekitar Laut Cina Selatan yang cukup rentan terhadap pengaruh konflik di semenanjung Korea.

     Korea Selatan sendiri selama lebih dari dua dekade belakangan ini tercatat telah  mengembangkan Indonesia sebagai pusat produksi sekaligus rekanan bisnis yang sangat penting dalam perencanaan perluasan ekonomi internasional. Beberapa perusahan atau konglomerasi besar ; Samsung, Hyundae dan Lotte secara besar- besaran telah melakukan ekpansi bisnis ke Indonesia. Statistik lain yang menunjukan keterkaitan ekonomi Indonesia dan Korea Selatan adalah tingginya tingkat populasi ekspatriat Korea Selatan di Indonesia. Tercatat kurang lebih 35.000 warga Korea tinggal sekaligus bekerja di Indonesia dan merupakan komunitas ekspatriat terbesar di Indonesia[iv].  

       Berdasarkan data lain yang dilansir situs resmi Kementrian Industri RI, peningkatan Investor dari Korea Selatan cukup cemerlang di tahun-tahun mendatang. Dengan masuknya Posco dan Hankook ke Indonesia, sekitar 100 perusahaan asal Korea Selatan datang ke BKPM dan menyatakan keseriusan mereka untuk berinvestasi di Indonesia. Seperti diketahui, Pohang Steel and Iron Company (Posco) bekerja sama dengan PT Krakatau Steel Tbk membentuk PT Krakatau Posco untuk berinvestasi sebesar US$6 miliar guna membangun industri baja dengan teknologi yang lebih baik. Adapun, Hankook  juga telah mulai merealisasikan komitmen investasinya yang hingga 2018 akan mencapai US$1,1 miliar. Secara keseluruhan komitmen investasi dari Korea Selatan telah mencapai US$12 miliar dan berpotensi meningkat menjadi US$20 miliar[v].
       Belum lagi dari sektor pariwisata, hubungan kedua negara cukup baik dalam hal kerjasama dalam rangka memajukan bidang budaya dan pariwisata. Tercatat bahwa Korea selatan menempati peringkat ke lima jumlah wisatawan terbanyak yang datang ke Indonesia.
         Sehingga cukup jelas bahwa keterkaitan konflik di Semenanjung Korea akan sedikit banyak mempengaruhi kondisi perekonomian bangsa baik implikasi kenaikan ataupun kecenderungan penurunan terhadap perekonomian bangsa.

Pengaruh terhadap Bidang Pertahanan

            a.         Masa depan Kerjasama proyek KFX/IFX dan Kapal Selam . Program KFX/ IFX yang telah lama direncanakan tentunya akan sedikit banyak terpengaruh oleh adanya konflik ini. Setidaknya ada dua kemungkinan, yang pertama proyek ini akan mengalami percepatan karena adanya desakan kebutuhan pesawat tempur generasi 4,5 untuk memperkuat sekaligus deterrence effect bagi Korut. Sedangkan kemungkinan yang kedua proyek ini terhenti karena alasan efektifitas pengalokasian anggaran pertahanan Korea Selatan yang memilih membeli pesawat yang sudah battle proven dan lebih cepat proses pengadaannya. Sedangkan kerja sama produksi Kapal Selam pun tentunya akan terpengaruh oleh adanya potensi konflik kedepan.

            b.         Keberlangsungan Pesawat T-50. Pada tahun 2013 ini, beberapa penerbang telah dikirim dalam rangka proyek pembelian 16 pesawat T-50 buatan Korea Selatan yang rencana akan segera datang pada tahun ini. Pengaruh kedepan tentunya bila konflik tersebut berlanjut dan berakhir buruk pada kondisi Korea Selatan, harus kita siapkan langkah alternative keberlangsungan pesawat ini. Keberlangsungan tersebut meliputi dukungan pemeliharaan dan alih tehnologi baik segi operator maupun maintenance.

c.     Peluang Indonesia diatas konflik . Di lain pihak kondisi ini berimplikasi terhadap kondisi regional dan Internasional negara di sekeliling wilayah konflik. Posisi Indonesia yang berpegang pada politik Luar Negeri Bebas aktif, akan membuahkan sebuah peluang sebagai mediator. Namun demikian, adanya beberapa kekuatan dan kepentingan yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung akan berusaha mendekati Indonesia sebagai negara yang mempunyai kedudukan di negara ASEAN cukup terpandang sebagai developing country yang mempunyai masa depan cemerlang. Usaha pendekatan tersebut akan terimplikasi dengan tawaran kerja sama di berbagai bidang sampai dengan hibah beberapa alutsista dan latihan bersama. Rencana Hibah F-16 dari Amerika Serikat, C-130 dari Australia, hibah F-5 dari Korea Selatan merupakan beberapa konsekuensi posisi strategis bangsa kita terhadap konflik tersebut.  Sehingga hal ini tentunya akan berdampak positif pada peningkatan kekuatan angkatan perang kita sebagai salah satu faktor pendukung posisi Indonesia di negara-negara Asia.
        Tidak bisa kita dipungkiri bahwa kekuatan angkatan bersenjata suatu negara merupakan alat diplomasi yang cukup efektif. Detterance effect  merupakan kekuatan diplomasi yang saat ini masih kurang dipahami dengan baik oleh masyarakat dan pemerintah kita. Sehingga peluang ini harus dimanfaatkan dengan asas penggunaan tanpa melibatkan diri pada salah satu kekuatan yang sedang bertikai.

Pengaruh terhadap Keamanan

            Dampak buruk perang sudah banyak kita jumpai dalam sejarah kehidupan manusia. Korban jiwa bukan lah sesuatu yang bisa dinafikkan dalam memperebutkan kepentingan pihak yang bertikai. Bagi negara tetangga pihak yang bertikai setidaknya menerima dampak yang berakibat pada keamanan dalam negeri. Beberapa kemungkinan yang dihadapi bangsa kita terkait dengan dampak konflik Korea Utara dan Selatan adalah banyaknya ekspatriat yang selama ini berada di Indonesia sebagai warga temporary  akan enggan untuk kembali ke negaranya.

            Keamanan perjalanan menuju wilayah yang berada di sekitar daerah konflik juga akan terganggu karena rawan dengan kegiatan yang mengancam jiwa kita. Terlebih khusus  jalur perdagangan Laut Cina Selatan yang sangat diminati untuk jalur pelayaran Internasional strategis menghubungkan benua Asia , Australia dan Eropa.

Happy Ending

            Sebagai pengharapan kita bersama bahwa kondisi konflik ini akan dapat diselesaikan di meja perundingan, sehingga hal-hal yang kita antisipasi tidak akan menjadi sebuah kenyataan pahit. Perang adalah kegagalan dari sebuah proses negosiasi yang sejatinya adalah perjuangan untuk kepentingan politik pihak tertentu. Namun demikian, potensi terburuk harus kita siapkan agar kewibawaan dan eksistensi bangsa Indonesia tetap dipertahankan.
           






Tidak ada komentar:

Posting Komentar