Jumat, 12 April 2013


Yogya Dikuasai Preman ; Merindukan Yogya Kembali
 Oleh : TNC




Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu,Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja
Di persimpangan, langkahku terhenti
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri, di tengah deru kotamu
(Kla Project , lyiric lagu Yogyakarta)
           
            Masyarakat Indonesia sepenuhnya  sependapat  dan  setuju dengan lyric lagu tersebut diatas. Bahkan masyarakat Internasional yang pernah berkunjung ke Daerah Istimewa Yogyakarta pun, pasti akan sepenuhnya sependapat dengan Katon, Lilo dan Ari. Lagu tersebut benar-benar merepresentasikan wajah ramah dan unique kota Yogyakarta yang memang berbeda dengan kota-kota lain. Keramahan itu tentunya dilandasi oleh budaya luhur warga setempat yang masih kental dengan tradisi Kraton yang dijunjung tinggi, serta masyarakat berpendidikan yang mendominasi tinggal di dalamnya.
            Seiring dengan perjalanan waktu, tingginya tingkat favoritesme, kredibilitas dan akuntabilitas beberapa sekolah menengah dan perguruan tinggi membuat kota ini berkembang dengan cukup pesat. Masyarakat dari luar daerah berbondong-bondong memadati kota ini tidak hanya untuk tujuan wisata namun juga untuk tujuan pendidikan. Hukum sosial ekonomi pun akhirnya berbicara. Peluang ini dibaca oleh investor dengan sigap, dengan mengembangkan bisnis yang menggiurkan. Populasi bertambah, perekonomian meningkat sudah barang tentu menghasilkan kompleksitas masalah sosial yang berujung kepada faktor keamanan masyarakat.
            Kalo kita perhatikan beberapa tahun terakhir, suasana kota ini sudah menuju ke suasana kota bisnis yang hiruk pikuk dengan kepentingan perekonomian dengan tingkat persaingan yang cukup tinggi. Alhasil suasana tenang, tentram dan damai sebagai tempat tujuan belajar yang dulu pernah ada, lambat laun hilang ditelan bus Jogja Trans dan gedung – gedung pusat perbelanjaan, serta tempat hiburan malam.


Fenomena Premanisme di Yogyakarta
Pasca kejadian penembakan 4 orang Napi di Lapas Cebongan membuat mata kita terbelalak bangun dari tidur nyenyak bahwa kota Yogyakarta ternyata sudah menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi kelompok preman. Terbukti bahwa mereka telah terorganisir dengan baik, dengan wilayah operasi yang tertata bak pemetaan kekuatan anggota POLRI yang tersebar di jalanan. Bagaikan jamur yang tumbuh, perlahan tapi pasti banyak kelompok masyarakat yang tidak produktif, pengangguran dengan latar belakang budaya , suku dan kepentingan membentuk kelompok – kelompok kecil yang meresahkan masyarakat. Yogyakarta sudah tidak lagi menjadi tempat yang dipenuhi wajah ramah di setiap sudut jalan, namun dihiasi oleh wajah sangar pemuda-pemuda yang nongkrong di setiap sudut jalan.
Perkembangan premanisme tidak lepas dari kondisi perekonomian, ketidak seimbangan pertumbuhan penduduk dan lapangan pekerjaan dan supremasi hukum serta wibawa aparat penegak hukum. Tingginya perbedaan tingkat perekonomian merupakan faktor pemicu tumbuhnya praktek-praktek premanisme fisik. Ketidak puasan terhadap kondisi perekonomian pribadi memicu sikap pemaksaan terhadap lingkungan sekitar yang mempunyai tingkat perekonomian lebih baik. Sedangkan pertumbuhan penduduk yang ada di kota Yogyakarta ini cukup significant karena sebagai kota pendidikan dan kota budaya. Secara logika, jumlah mahasiswa akan bertambah berdatangan tiap tahun ajaran baru, sedangkan mahasiswa yang baru lulus belum tentu semuanya akan meninggalkan Yogyakarta. Belum lagi datangnya warga non pribumi yang datang dari berbagai latar belakang, daerah, budaya, suku dan bahasa telah menimbulkan masalah yang cukup komplek. Di lain pihak penegakan terhadap hukum terlihat mulai melunak bahkan melembek dengan berbagai alasan. Sebagai barometer yang paling mudah dilihat, silahkan anda sesekali mengamati pengendara sepeda motor yang berkeliaran tanpa menggunakan helm dengan kecepatan tinggi di sekitar daerah kos-kosan dan Perguruan Tinggi. Meskipun Kota Yogyakarta sudah menjadi Indonesia kecil, kewibawaan aparat penegak hukum harus dijaga dengan mengabaikan faktor kesukuan dan rasisme.

Langkah – Langkah yang dapat diambil.

            Menyikapi fenomena yang terjadi di lapangan, perlu kiranya segera diambil tindakan yang cepat, tepat dan efektif serta tepat sasaran dalam memberantas tumbuh kembangnya premanisme di DI Yogyakarta. Langkah-langkah tersebut diantaranya sebagai berikut :

1   * Penertiban KTP dan Ijin Tinggal. KTP merupakan Yuridis formal untuk controlling dan ketertiban status warga Negara yang berada di Yogyakarta ini. Sudah lama program sweeping dan pengecekan KTP di jalan tidak dilakukan. Padahal preman – preman itu rata – rata orang yang nggak punya KTP. Persempit ruang gerak mereka sehingga mempersempit keinginan mereka untuk menjadi anggota preman.

2  * Ketegasan Aparat Penegak Hukum. Keamanan menjadi core bussesnis Kepolisian sinergi dengan pemerintah daerah. Bekerja sama dengan baik, guna mengantisipasi bukan menanggulangi potensi premanisme akan dapat mengembalikan Yogyakarta menjadi kota budaya dan kota pendidikan. Bila kita perhatikan kota-kota wisata di Negara maju maupun daerah-daerah tujuan wisata baik tingkat domestic, regional maupun Internasional, maka aparat pengamanan atau kepolisian terlihat kehadiran secara nyata selama 24 jam non stop. Patroli keamanan baik dengan jalan kaki maupun berkendaraan digelar secara teratur akan memberikan rasa aman bagi warga dan rasa was was bagi preman-preman. Coba anda bayangkan bila ada petugas keamanan yang selalu bersiaga penuh wibawa, mungkinkah saudara-saudara preman yang sedang diperjuangkan Hak Azasi Manusia nya akan tumbuh subur di kota ini?

3   * Penertiban dan Pendataan Tempat Kos. Pemerintah Daerah harus tegas melarang adanya kos-kosan yang digunakan untuk tinggal kelompok berdasarkan suku, bangsa, agama dan ras. Harus ada ketegasan bahwa yang datang ke Kota Yogyakarta ini adalah warga Negara Indonesia. Tinggalkan kesukuan, ras dan agama. Karena bila orang sudah berkelompok – kelompok maka permasalahan akan muncul dengan segera. Banyak sekali ditemui tempat kos warga Surabaya, warga Papua, warga NTT, warga Sulawesi dan warga-warga lain yang sebenarnya itu memicu terjadinya konflik horizontal. Bahkan asrama daerah pun harus diatur dengan tegas dan jelas.

4   * Siskamling Sebagai Ciri dan Budaya. Salah satu ciri masyarakat yang mandiri dan tidak apatis adalah banyaknya kegiatan warga yang digelar dengan dasar kepentingan bersama. Bila kegiatan kebersamaan warga sudah jarang dilakukan dalam sebuah komunitas maka kita sudah masuk ciri masyarakat metropolis. Pada dasarnya Yogyakarta adalah jenis kota dengan masyarakat bercirikan tradisional yang cukup kental. Sehingga kegiatan pengamanan lingkungan secara mandiri di tiap lingkungan akan menciptakan rasa aman bagi masyarakat sekitar.


Begitulah sekelumit tentang uneg-uneg seorang yang peduli dan cinta kota Yogyakarta. Daripada kita meributkan hukuman apa yang harus diberikan kepada 11 anggota Kopassus yang telah secara Ksatria mengakui perbuatannya dan memperjuangkan HAM para pemerkosa dan pembunuh bayaran, akan lebih bermanfaat jika kita membahas langkah apa yang harus kita perbuat untuk menciptakan kondisi yang lebih baik kedepan. Don’t look back but look forward for a better future.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar