Sabtu, 11 Mei 2013

Menghijaukan Tentara Nasional Indonesia


Oleh :TNC
The Military of the future will need to be a “self-contained,self-sufficient,full-service enterprise capable of being projected over long distances and sustained for long periods of time to deal successfully with a full range of complex emergencies”[i]
(Gregory D.Foster, a professor at the Industrial College of the Armed Forces,Washington)

            Menipisnya kandungan minyak dunia, dan kenyataan bahwa minyak merupakan salah satu sumber konflik harus disikapi dengan smart  thinking dan smart action yang didasari oleh semangat nasionalisme untuk mewujudkan ketahanan nasional. Energi alternative sebagai solusi pengganti sumber daya alam yang kian menipis mulai dikembangkan di beberapa negara maju untuk menciptakan sebuah kondisi ketahanan nasional yang dituangkan dalam konsep militer yang mempunyai kemampuan pemenuhan kebutuhan secara swadaya, efektif dan berkelangsungan serta siap menghadapi segala kemungkinan datangnya emergency.
            Pada tulisan ini akan kita kupas secara singkat bagaimana mewujudkan postur TNI dengan pendekatan energy ramah lingkungan yang dapat kita manfaatkan dan optimalkan sebagai pengganti sumber energi konvensional yang sudah mulai dikembangkan oleh beberapa negara maju.

Kembali Kepada Matahari Dan Angin

        Pembahasan seputar solusi energi alternative untuk keperluan militer di negara kita nampaknya masih kurang populer dan mendapatkan perhatian khusus baik dari pihak militer maupun pemerintah. Hal ini dimungkinkan karena bangsa kita tidak terlatih untuk menghadapi keterbatasan sumber daya alam bahkan kita terlahir di bumi yang “gemah ripah loh jinawi” tongkat kayu jadi tanaman ditambah sumber daya alam yang tersebar luas dari sabang sampai merauke.
           Tenaga surya merupakan salah satu alternative solusi energi yang telah dikembangkan di beberapa negara Asia Pasifik ( Australia, China, Jepang dan Korea Selatan ). Negara-negara tersebut telah berinvestasi besar-besaran dengan prinsip kemandirian energinya melalui alternative tenaga surya. Disamping itu , permintaan panel surya atau solar photovoltaic (SPV) di kawasan Asia Tengah dan Asia Pasifik diprediksi akan "booming", diperkirakan akan mencapai lebih dari 3 gigawatt(GW) pada 2017. Berdasarkan proyeksi tersebut, berarti akan terjadi rata-rata pertumbuhan sekitar 28 persen apabila dikomparasikan dengan permintaan tahun 2012 yang mencapai 72 megawatt (MW). Demikian hasil temuan dari NPD Solarbuzz Emerging PV Markets untuk Asia Tengah dan Asia Pasifik seperti dikutip dari elp (Electric Light&Power).[ii] Pengembangan tehnologi tenaga surya portable telah melahirkan serangkaian kemungkinan penerapan militer seperti System GPS, pencahayaan garis pertahanan, dan ransel baterai lithium-ion. Bahkan para periset di Universitas Nasional Australia telah mengembangkan panel-panel tenaga surya fleksibel yang bisa ditempelkan di tenda atau pakaian tentara dan dapat digunakan untuk menambah daya peralatan seperti kaca mata di malam hari. Tidak hanya peralatan yang lebih kecil, beberapa negara telah mengumumkan pembuatan pesawat UAV bertenaga surya. Pertanyaan selanjutnya adalah kemana kemanunggalan TNI dengan ilmuwan serta akademisi tanah air yang sebenarnya mempunyai kemampuan ingenuity, kecerdasan dan  kreatifitas yang cukup tinggi untuk mewujudkan konsep ini????
           Angin sebagai sumber tenaga alam yang tidak pernah habis, dapat dimanfaatkan untuk kepentingan militer. Pada akhir tahun 2011, Arista Power memperkenalkan sebuah jenis “turbine angin mikro” yang dirancang untuk memberikan kemampuan tambah daya baterai di lokasi-lokasi terpencil dan tanpa listrik bagi militer dan penerapan lainnya.[iii] Bahkan salah satu turbine portable berbobot kurang dari 15 pon (7,5 kg) dan dapat dibawa di dalam wadah sebesar koper. Ladang-ladang angin juga bermunculan di seluruh Asia Pasifik di mana negara-negara seperti Korea Selatan,Thailand, dan Filipina mengembangkan rencana untuk memenuhi kebutuhan energinya. Menurut laporan dari The Epoch Times, Jepang, pasca gempa bumi dan tsunami yang menghancurkan reactor nuklir pada bulan Maret 2011, berencana untuk membangun ladang angin terapung pertama di dunia yang terletak di lepas pantai. Sekedar berandai-andai , jikalau lepas pantai di sepanjang Pulau Jawa, Sumatera dan  Pulau-pulau lain di buat proyek semacam ini, kira-kira berapa puluh ribu KWH yang dapat dihasilkan. Jangankan untuk kepentingan militer, untuk kepentingan masyarakat umum pun akan dapat di cover tentunya. Pertanyaan selanjutnya adalah kemana kemanunggalan TNI dengan ilmuwan serta akademisi tanah air yang sebenarnya mempunyai kemampuan ingenuity, kecerdasan dan  kreatifitas yang cukup tinggi????

Pentingnya Sebuah Pola Pikir

            Pola pikir terkadang terbentuk dari adanya sebuah ancaman dan paksaan baik internal maupun eksternal. Kondisi perkembangan tehnologi militer negara – negara di Asia Pasifik harus disikapi positif untuk menentukan sebuah pola pikir yang bermuara pada kebijakan nasional. Terlalu naïf bila kita selalu mengatakan keterbatasan anggaran pertahanan yang membuat angkatan perang kita tidak sejajar dengan bangsa lain. Karena sebenarnya seberapa efektif dan besarnya anggaran tersebut merupakan hasil penjumlahan dari pola pikir dan implementasi. Tidak cukup Pemerintah yang diawaki oleh NEGARAWAN saja yang perlu mempunyai pola pikir ini. Namun kecerdasan rakyat harus diarahkan menuju pola pikir terobosan kemandirian dalam hal ketahanan nasional. Berpikir kearah filosofi kemandirian dan esensi trending kedepan merupakan tuntutan TNI kedepan.  Kemandirian dalam arti seminim mungkin menjadi kekuatan yang menjadi dominasi pasar senjata bagi negara lain dengan mencermati arah perkembangan dunia sesuai dengan posisi geografi dan faktor geostrategic bangsa-bangsa di dunia adalah definisi kemandirian secara luas.
            Akhirnya, semua cita-cita,konsepsi dan impian akan tercapai bila kita mempunyai visi yang dilandasi dengan sebuah pola pikir. Pada saat negara-negara maju memutuskan untuk memakai satu jenis baju lapangan militer untuk berbagai aktifitas baik di kantor maupun di lapangan hanya didasari semangat dan pola pikir untuk penghematan , efisiensi dan efektifitas. Sedangkan militer kita masih suka bergonti ganti uniform sebagai kebanggan yang selalu tidak pernah sama antar angkatan.

Military Go Green

         Sekelumit data diatas seharusnya menggugah kita untuk segera berbenah diri dan menentukan sikap. Ibarat hidup bertetangga, sebelah rumah sudah mulai mengembangkan budidaya pangan secara mandiri di ladang, bahkan sudah mengurangi konsumsi bahan bakar minyak karena sudah pakek mobil, penghangat ruangan, alat masak dan listrik yg berbasis dari tenaga surya. Sudah sepantasnya kita berpaling menuju ke kondisi yang ramah lingkungan dengan memetik konsep  kemandirian.
            Postur militer yang selalu syarat dengan tehnologi akan menjadi lebih strategis dan efektif bila mempertimbangkan pendayagunaan potensi sumber daya alam non konvensional ramah terhadap lingkungan dan mendukung kesinambungan kekuatan angkatan perang kita. Sebagai contoh bentuk implementasi konsep yang mungkin dapat diterapkan adalah sebagai berikut :
 a.         Ladang angin pada satuan.  Beberapa satuan militer yang tersebar di seluruh pelosok tanah air memiliki karakteristik geografis yang sesuai untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga angin. Dalam rangka penghematan kebutuhan BBM di tiap satuan, perlu kiranya mulai di kaji untuk konversi energy listrik dari PLN menuju ke sumber listrik yang dihasilkan oleh ladang angin yang diciptakan di tiap satuan tersebut.

           b.         Pengembangan tehnologi UAV tenaga surya. Meski transfer tehnologi dan penelitian membutuhkan biaya yang cukup tinggi, tidak ada salahnya kita mulai bermimpi untuk paling tidak mempunyai visi tersebut. Pemberdayaan PTDI sebagai badan usaha milik negara yang cukup dekat dengan tehnologi kedirgantaraan perlu menciptakan terobosan tehnologi tersebut. Kebijakan pemerintah dan TNI AU dalam rangka mendukung visi ini sangat diperlukan.

 c.         Pemanfaatan Mobil tenaga surya. Munculnya tehnologi mobil tenaga surya bukan menjadi barang baru di negara kita. Yang baru adalah kebijakan-kebijakan yang pro dan mendukung pemanfaatan tehnologi tersebut. Sehingga saat ini yang dibutuhkan adalah kebijakan tentang visi tersebut. Berapa banyak dana anggaran yang bisa kita hemat yang selanjutnya bisa kita alokasikan untuk kebutuhan riset pengembangan tehnologi atau untuk sector yang lain.

d.         Kemanggulan TNI dengan Ilmuwan akademisi untuk pemberdayaan riset. TNI pada hakekatnya adalah alat pertahanan milik negara yang siap melaksanakan tugas tehnis di lapangan dengan menggunakan alutsista yang efektif dan efisien. Sehingga sinergi antara pengguna dan pencipta alutsista harus seiring sejalan dalam pengembangan konsep inovasi dalam wadah kemanunggalan TNI dengan ilmuwan dan akademisi untuk melaksanakan riset.

            Kegiatan research yang akan menghasilkan penemuan dan penerapan tehnologi membutuhkan biaya yang cukup mahal dalam sebuah proses pembentukan kekuatan pertahanan negara. Menjadikan sebuah budaya dan kebijakan nasional dalam rangka kepentingan nasional untuk selalu mengembangkan potensi yang ada guna mendapatkan penerapan tehnologi dan konsepsi baru yang bermuara pada kemandirian sesuai dengan perkembangan lingstra diharapkan menjadi sebuah tataran baru perkembangan kekuatan militer kita.
            Sebagai akhir dari coretan ini, kita semua berharap kedepan muncul adanya kebijakan tentang pemanfaatan solusi energi  alternative ini kedalam konsep pertahanan nasional kedepan. TNI sebagai stake holder  pertahanan nasional bersama komponen bangsa lain diharapkan mampu membaca sekaligus memanfaatkan peluang ini sebagai terobosan baru dalam menghadapi persaingan global.



[i] Asia Pacific Defense FORUM, Volume 38,Issue 1, 2013, a powerful Force, hal 35
[iii] Asia Pacific Defense FORUM, Volume 38,Issue 1, 2013, a powerful Force, hal 33

Tidak ada komentar:

Posting Komentar