Senin, 19 Agustus 2013

Relevansi Slogan Safety First Pada TNI AU

Relevansi Slogan Safety First  Pada TNI AU
Oleh : TNC


“Kegiatan latihan tanpa terjadinya kecelakaan pada masa damai , juga menunjukkan kemampuan organisasi perang pada masa perang.”


            Angkatan perang adalah salah satu organisasi yang dibentuk untuk mempertahankan kedaulatan bangsa dan negara dengan segala resiko. Sehingga anggota Angkatan Perang pun disiapkan untuk menghadapi berbagai macam resiko yang terdiri dari berbagai bentuk resiko dan tingkat resiko. Salah satu resiko tersebut adalah keselamatan baik jiwa maupun material. Hal ini lebih kita kenal dengan istilah safety. Perkembangan dari waktu kewaktu, manusia mulai menempatkan safety sebagai sebuah tuntutan dalam kehidupan. Hal ini sesuai dengan teori Maslow dimana menempatkan rasa aman sebagai tingkatan kebutuhan dasar manusia.

            Slogan Safety First telah kita kenal di lingkungan TNI AU dalam waktu yang cukup lama. Selain kita mengadopt dari angkatan perang negara lain slogan ini juga merupakan hasil dari langkah antusias organisasi untuk mentriger program keselamatan terbang dan kerja. Slogan ini terlihat cukup bagus, akan tetapi sebenarnya kurang begitu tepat. Sehingga beberapa negara lain pun sudah tidak menggunakan slogan ini dalam organisasi. Beberapa alasan dan pertimbangan bahwa tidak ada satupun organisasi perang di dunia yang menempatkan safety sebagai tujuan utama. Apabila kita menempatkan safety sebagai tujuan utama dari organisasi maka jangan ijinkan pesawat kita di terbangkan, maka kita akan mencapai safety sebagai tujuan utama organisasi.

            TNI AU sebagai organisasi perang dibentuk dengan misi dan tugas pokok. Sedangkan slogan “safety first “ akan menempatkan safety sebagai prioritas  utama. Hal ini akan membentuk kesalahan pola pikir secara esensi dan filosofi. Sesungguhnya Safety bukanlah tujuan utama. Akan tetapi, kita seharusnya memahami safety sebagai suatu tujuan yang sangat sesuai dengan tujuan organisasi pada beberapa hal. Pada dasarnya safety mempunyai peran dalam mendukung misi dan tugas pokok serta membantu kita untuk mencapai tujuan organisasi kita secara efektif. Pada dasarnya safety adalah sebuah metode “controlling costs”.  Costs disini bisa diartikan sebagai segala kemampuan dan kekuatan TNI AU baik berupa materi (alutsista) maupun non materi (personel). Sehingga dengan safety kita akan dapat melaksanakan misi kita dengan menjamin kerusakan yang minim pada alutsista serta korban pada personel organisasi. Fungsi management organisasi harus selalu mengembangkan metode yang paling efektif untuk menyelesaikan misi dengan resiko yang paling kecil. Dengan paradigma baru safety ,  para komandan, perwira safety harus mampu memotivasi untuk memanage dan mempertahankan safety sembari mencapai kesuksesan misi dan tugas pokok organisasi. Bagaimana orang menilai organisasi kita siap operasi dan diawaki atau dimanage oleh personel yang profesional bila tingkat incident maupun accident cukup tinggi. Sehingga, pada dasarnya pola pikir ini yang perlu kita kedepankan untuk menyamakan visi seluruh anggota organisasi.Bukan menempatkan visi safety first yang mengakibatkan kesalahan filosofi pemahaman kedepan. Tugas pokok dan misi adalah utama dengan tetap menjamin upaya meminimalisir terjadinya incident maupun accident.

            Kedepan kita harus berusaha untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan operasional dengan menjamin tingkat pencapain zero accident. Tentunya personel tidak akan mempunyai integritas yang tinggi untuk mewujudkan tugas pokok dan misi organisasi bila tidak ada jaminan dan upaya konkrit dari organisasi untuk berkomitmen memanage tingkat resiko yang dihadapi. Kompleksitas permasalahan pencapaian zero accident di organisasi kita cukup kompleks. Mulai dari budaya sampai dengan integritas moral dalam melaksanakan tugas sesuai dengan aturan dan prosedure yang berlaku. Sinergi dan semangat bersama antara pelaksana operasi, penyiap pesawat, pengadaan barang dan pengambil kebijakan yang dilandasi tanggung jawab moral kepada anak istri dan Tuhan YME merupakan pijakan awal untuk menuju keselamatan terbang dan kerja yang bermuara pada kesiapan operasional organisasi TNI AU.

            Dalam kesempatan ini mari kita mencoba memahami beberapa prinsip safety yang diharapkan mampu memberikan pemahaman yang tepat tentang safety bagi personel pada khususnya dan bermanfaat bagi organisasi TNI AU kedepan.

Zero Accident  is Achieveable Goal

            Perlu kita pahami bersama bahwa,  human error merupakan faktor yang selalu hadir dalam dalam diri manusia. Sehingga tidak terjadi nya accident atau incident dalam sebuah organisasi sepertinya menjadi sesuatu hal yang susah untuk dihindari.

            Namun demikian Zero accident  adalah sesuatu kepercayaan yang harus kita jadikan acuan yang mendarah daging untuk dapat dicapai. Dengan memegang prinsip ini diharapkan akan membentuk kerangka berpikir dan mind set serta langkah-langkah yang tepat yang diambil secara pro active untuk mencegah potensi terjadinya accident di kemudian hari. Dengan memahami  ciri –cir dari accident , serta mengambil langkah-langkah pencegahannya maka kita yakin bahwa kecelakaan dapat dicegah.

            Kecelakaan harus kita pahami sebagai hasil dari ancaman-ancaman yang lolos ataupun berbagai bentuk error yang tidak terdeteksi ataupun terlambat untuk di deteksi sehingga terjadi kondisi yang lebih buruk. Sebuah kecelakaan dapat dicegah jika langkah-langkah antisipasi dan koreksi telah diambil pada waktu yang tepat untuk mengurangi ancaman dan eror tersebut. Sehingga pemahaman terhadap penerapan mangemen eror dan ancaman (Threats and errors management) menjadi sangat penting dalam usaha pencapaian “zero accident”.

            Sehingga zero accident adalah sebuah tujuan yang harus kita jadikan acuan tanpa meributkan dan memperdebatkan hasil, namun lebih mengutamakan proses usaha dan keseriusan dalam pencapaiannya. Karena sejatinya kita bersama ingin selamat, baik di dunia maupun di akherat.

Zero Accident  adalah Indikator kemampuan dan kesiapan Operasional

            Seperti yang telah diuraikan diatas bahwa, kemampuan operasional organisasi dapat dilihat dengan tingkat pencapaian zero accident. Bagaimana kita akan siap perang bila tingkat incident dan accident tinggi. Bila dalam kondisi damai kita masih belum mampu untuk mengontrol dan memanage tingkat resiko yang dihadapi, maka dalam kondisi perang dimana organisasi ini sejatinya dipersiapan sudah barang tentu kita tidak akan mampu mempertontonkan kemampuan dan kesipan operasional.

       Kemampuan operasional (operational capability) dan zero accident mempunyai hubungan yang sangat erat. Langkah-langkah untuk meningkatkan safety  mungkin bukanlah cara yang paling efektif untuk melaksanakan kemampuan operasi. Akan tetapi, penerapan safety akan mengurangi kemungkinan terjadimya kecelakaan pada personel dan peralatan. Dengan tercapainya zero accident , gangguan terhadap organisasi yang disebabkan oleh kecelakaan akan minim, sehingga organisasi akan mampu berfungsi dengan kapasitas dan kapabiltas yang lebih tinggi.

     Program pencegahan kecelakaan yang baik akan mengurangi terjadinya kecelakaan. Ketika terjadinya kecelakaan, fungsi management organisasi akan melaksanakan review. Secara otomatis moral dan kepercayaan akan terpengaruh. Selanjutnya, performa organisasi akan menurun sebagai hasil pengurangan dari komplesitas latihan, penerapan aturan baru dan  peningkatan fungsi supervisi. Kebalikannya, sebuah unit atau organisasi dengan pencapaian zero accident akan dapat berkonsentrasi lebih dalam pengembangan dan peningkatan kemampuan operasional.

        Latihan tanpa terjadinya kecelakaan pada masa damai ,menunjukkan kemampuan organisasi pada masa perang. Jika TNI AU mampu mencapai zero accident pada masa damai, maka TNI AU akan dapat menggunakan kemampuan skill organisasi untuk fokus terhadap usaha-usaha pencapaian kesuksesan misi dan zero accident selama masa perang. Keselamatan dan operasi – operasi yang efektif pada masa damai menuntut personel TNI AU untuk disiplin dan professional. Hal ini juga berlaku pada peningkatan operational capability pada masa perang.


Incident Reporting adalah keharusan untuk pencegahan Kecelakaan

         Incident Reporting adalah tanggung jawab moral. Melaporkan terjadinya incident adalah perwujudan tingkat moralitas manusia agar kejadian serupa  atau potensi yang lebih buruk tidak akan terjadi kembali pada rekan kita.  Untuk menjadikan budaya lapor dalam rangka upaya pencegahan kecelakaan, organisasi perlu membuka system laporan terbuka dimana iklim, procedure dan budaya bukan lagi menjadi hambatan bagi seluruh personel untuk terlibat secara pro aktif. Adanya laporan tentang incident membantu proses identifikasi kelemahan system dan area yang beresiko tinggi. Fungsi manager yang diperankan oleh perwira safety dan komandan selanjutnya berkewajiban untuk menganalisa dan menentukan langkah untuk mengurangi tingkat resiko tersebut. Sesuai dengan H.W Heinrich Triangle Theory bahwa setiap satu kecelakan major injury diawali dengan 29 minor injuries dan 300 no injuries accident. Sehingga untuk menanggulangi terjadinya kecelakaan (accident) perlu kita konsentrasi terhadap pelaporan dari no injuries accident, sehingga proses antisipasi dapat diambil sedini mungkin.      

Kesimpulan

      Sebagai kesimpulan akhir, bahwa  pola pikir dan semangat pencapaian (mind set building) inilah yang perlu kita samakan. Perlu kiranya ada sebuah mission statement yang clear and defined structured. Jelas, mudah dimengerti dan seragam oleh seluruh satuan dari sabang sampai dengan merauke. Sehingga tidak ada lagi yang menulis slogan dan mempunyai persepsi sendiri-sendiri dan beraneka ragam tentang arah kebijakan safety di organisasi TNI AU. Sehingga pencapaian operational capability dengan memegang prinsip-prinsip safety akan tercapai secara efektif, efisien dan tepat sasaran.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar