Sabtu, 16 Juli 2016


Empat Jam Di Subang Malaysia


Oleh: Mayor Pnb Taufik NC, S.T

 

“Sebuah catatan singkat pengalaman crew Skadron Udara 32 dalam misi penjemputan TKI illegal di Malaysia. Rumput Negara tidak lebih hijau dari rumput Negara kita. Cintailah Negara mu , maka Negara akan mencintaimu pula.”

 

          Tanggal 22 Desember 2014, menorehkan sejarah dalam perjalanan pengabdian kami kepada bangsa melalui TNI Angkatan Udara. Siang itu tepatnya pukul 13.30 wib, kami beserta 5 setting crew pesawat C-130 Hercules dilepas dengan upacara resmi oleh Asisten Operasi KSAU di depan VIP Room Lanud Halim Perdana Kusuma dalam rangka melaksanakan misi penjemputan TKI illegal yang berada di Malaysia. Sebuah pesan yang cukup melekat adalah bahwa kami membawa misi bangsa dan Negara untuk membawa kembali warga Negara Indonesia yang dinyatakan illegal bekerja di negeri Jiran untuk kembali ke Indonesia. Mengingat tugas ini adalah membawa nama bangsa dan Negara kami ingin melaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab sebagai tentara professional yang mempunyai jati diri. Demikian sekelumit catatan misi penjemputan TKI illegal di Malaysia menyisakan kenangan tak terlupakan bagi bangsa Indonesia serta crew yang bertugas.

 

Briefing ADO (Analisa Daerah Operasi) sebagai starting point

          Pagi hari kamis, tanggal 21 Desember 2014 kami 2 set crew, A-1310 dan A-1305, Skadron Udara 32 mengawali kegiatan dengan menerima paparan ADO dari seksi Intel Lanud Abd Saleh. Dihadiri oleh Komandan Skadron Udara 32, Letkol Pnb Reza R. R Sastranegara, bersama seluruh crew yang akan bertugas kami menerima informasi khusus yang berkaitan dengan daerah yang akan kami tuju , Sultan Abdul Aziz Shah, Subang, Malaysia sebagai tempat kita melaksanakan penjemputan saudara kita para TKI illegal. Kondisi cuaca, medan operasi, potensi ancaman dan contingency yang sekiranya penting untuk kami ketahui di paparkan dengan jelas oleh petugas. Ketahui diri sendiri, musuh dan lawanmu adalah prinsip dalam mengawali sebuah operasi bagi insan militer.

          Berkat Informasi yang telah kami dapatkan, membuat perencanaan kami yang meliputi, fuel planning, load planning, emergency action, alternate, emergency condition yang tertuang dalam Operation Risk Management Asessment dapat di antisipasi dan dijawab dengan mitigation actions yang sudah direncanakan. Salah satu alasan selanjutnya kenapa kami membawa double captain pada masing – masing pesawat ,A-1310/Mayor Pnb Subhan dan Kapten Pnb Sandy, A-1305/ Mayor Pnb A. Rohimat dan Mayor Pnb Taufik NC, adalah kami ingin menyiapkan misi ini 200 persen kesiapan dengan segala dinamika yang terjadi di lapangan.

 

Menjawab Kemampuan Rapid Global Air Mobility

          Tanggal 22 Desember 2014, setelah upacara pembukaan kami berangkat menuju Lanud Roesmin Nuryadin sebagai pangkalan aju yang terdekat dengan Pangkalan Subang dengan EET 42 menit. Keesokan harinya pada pukul 09.30 wib ,kelima pesawat C-130 Hercules dengan No reg A-1320, A-1327, A-1305, A-1326 dan A-1310 berangkat dari Lanud RSN secara beriringan separasi take off 10 menit antar pesawat menuju Pangkalan Subang. Cuaca sepanjang perjalanan cukup menantang karena sebagian besar wilayah selat Malaka tertutup oleh perawanan CB karena pengaruh EDI di wilayah Philipine dan low pressure di sebelah timur kepulauan Sumatera. Setelah menembus awan dan melaksanakan VOR DME approach run way 15 kelima pesawat akhirnya dapat landing dengan aman di Pangkalan udara Subang, dimana para TKI illegal sedang menunggu proses administrasi di kantor imigrasi Malaysia. Kami menunggu beberapa jam di ruang tunggu untuk melaksanakan ISOMA dan berbincang – bincang hangat dengan beberapa personel TUDM yang berdinas di Pangkalan Udara Subang.

          Setelah Hujan deras mengguyur Subang, selama kurang lebih selama 1 jam, seperti semua telah diatur oleh yang Maha kuasa, para TKI illegal telah siap untuk melaksanakan boarding secara tertib. Total keseluruhan personel yang kami bawa dengan 5 pesawat Hercules adalah sebanyak 562 personel. Sore itu juga kami berangkat menuju Pangkalan TNI AU Halim Perdana K, yang ditempuh selama 2 jam 44 menit. Kemampuan pesawat dalam hal daya angkut, daya jelajah, dan kemampuan pesawat dalam berbagai cuaca membuat misi ini dapat dilaksanakan dengan efektif tanpa melaksanakan refuel di Subang serta tidak terkendala oleh kondisi siang malam serta cuaca. Alhasil pada pukul 20.45 wib pesawat kelima berhasil landing di Lanud Halim dengan aman dan lancar. Selanjutnya para TKI illegal secara resmi diserah terimakan dari Wadubes RI untuk Malaysia kepada Menlu dan Menaker dalam sebuah upacara resmi di depan base ops Lanud Halim Perdana Kusuma.

          Keesokan harinya, 2 pesawat Hercules (A-1305 dan A-1327) kembali mendapat kan tugas untuk menjemput TKI illegal di Subang Malaysia. Namun kali ini kami merencanakan rute dari Halim menuju Medan guna mengantarkan sebagian TKI illegal yang berasal dari daerah Medan Sekitarnya. Setelah menurunkan penumpang dan melaksanakan refuel, selanjutnya kami melanjutkan penerbangan menuju Subang. Kondisi cuaca hari itu cenderung lebih bagus bila dibandingkan misi satu sehari sebelumnya. Kurang lebih sebanyak 184 personel TKI Illegal berhasil kami bawa kembali ke Jakarta untuk selanjutnya mendapatkan pengarahan lebih lanjut dari pihak Imigrasi.

          Kemampuan Air Mobility dengan kemampuan rapid dengan radius global merupakan sebuah tuntutan angkatan udara suatu Negara saat ini. TNI Angkatan Udara harus mampu mengemban tugas Negara tidak hanya dalam wilayah territorial NKRI namun diharapakan sudah mampu menjangkau wilayah sekitar dalam lingkup regional maupun global. Oleh karenanya, kesiapan pesawat C-130 dan awak pesawat sebagai salah satu kemampuan air support yang dimiliki oleh TNI AU harus senantiasa dijaga dan dikembangkan.

 

Kehadiranmu Menumbuhkan Kembali Nasionalisme Yang Sempat Hilang

          Sedikit menarik sebuah nilai dari cerita para TKI illegal tersebut, banyak dari mereka yang meneteskan air mata saat teman- teman sesama tenaga kerja illegal dari Negara lain masih mendekam di camp penampungan karena tidak bisa kembali ke Negara masing-masing, sedangkan mereka yang dari Indonesia mendapatkan penjemputan dari TNI Angkatan Udara sebagai kepanjangan dari pemerintah Indonesia. Dibalik pelanggaran yang telah mereka perbuat, kebanggaan kami dan rasa cinta tanah air cukup terusik melihat beberapa warga Negara Indonesia yang mengadu nasib di negeri Jiran harus menerima nasib sebagai tahanan yang tidak semuanya disebabkan oleh unsur kesengajaan namun lebih kearah ketidaktahuan tentang masalah hukum. Besar harapan kita untuk menjadikan moment ini sebagai cambuk agar kita berbenah diri sehingga harkat dan martabat bangsa tidak dilecehkan di tingkat Internasional.

 

“Swadyayajnanan Anuraga Bhakti Nagara”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar