Rabu, 15 Agustus 2018

Your Attitude Defines Altitude


By : TNC

Salah satu bentuk keprihatinan pada dunia penerbangan nasional sebagai wujud kecintaan pada wilayah tanah, air dan UDARA Indonesia.

    Perkembangan dunia penerbangan bergerak sangat cepat sebagai moda transportasi yang menghubungkan satu kota menuju kota lain. Hal ini bisa dilihat dari menjamurnya maskapai penerbangan di Indonesia dengan berbagai jargon dan visi. Perubahan image bahwa penerbangan hanya didominasi oleh kalangan ekonomi menengah keatas telah sirna dengan adanya konsep low cost carrier yang membuahkan trend everybody can fly. Sesuai dengan prinsip ekonomi bahwa peningkatan demand akan berdampak langsung pada peningkatan supply nampaknya tidak bisa dinafikkan lagi dalam bisnis penerbangan. Hal menonjol yang terkait dengan tema yang akan diulas oleh penulis adalah bagaimana fenomena yang terjadi dalam peningkatan aspek sumber daya manusia pilot penerbangan sipil sampai dengan saat ini.
      Dalam sebuah misi penerbangan, penulis sangat tergelitik dan merasakan hal yang kurang nyaman akhir-akhir ini dengan attitude para pilot selama tugas penerbangan khususnya dalam etika berkomunikasi antar pesawat dan petugas ATC (Air traffic Controller). Dimana secara mendasar bila kita analisa kondisi tersebut dilatarbelakangi oleh kualitas attitude para pilot. Melekat sekali dalam ingatan saya bagaimana indoktrinasi nilai yang diberikan oleh salah satu senior saya bahwa perubahan pada pesawat terbang diawali oleh perubahan attitude yang direpresentasikan oleh AH (Artificial Horizon) dan akhirnya akan berdampak pada ketinggian pesawat yang ingin dicapai. Hal serupa dengan analogi bahwa attitude kita akan sangat menentukan seberapa tinggi kualitas kita dalam berprofesi.

Komunikasi Penerbangan Yang Tidak Berkelas

       Tidak ada satupun Flying School di dunia ini yang tidak mengajarkan tentang konsep airmanship yang di dalamnya melekat aspek attitude dasar perilaku seorang pilot dan kepatuhan akan segala aturan. Beberapa kali yang penulis temui dalam komunikasi penerbangan selama tugas  penerbangan adanya kecenderungan bentuk komunikasi yang kurang nyaman dan tidak pada tempatnya. Beberapa contoh kasus yang bisa kita jumpai diantaranya adalah :
  • Complain diatas. Pada saat instruksi ATC dirasa tidak sesuai dengan apa yang direncakan oleh pilot, tidak jarang melaksanakan complain cash and carry di saat penerbangan sedang berlangsung.
  • Celoteh dan clometan. Terkadang di jalur penerbangan yang tidak terlalu crowded atau pada saat bertemu pilot yang memiliki kedekatan emosianal komunikasi antara pilot menjadi sebuah obrolan bercandaan dan saling berceloteh. Hal ini terkadang membuat pihak lain tidak nyaman dan dapat menjadi distraction bahkan menuju ke kondisi penurunan kewaspadaan crew.


Komunikasi Penerbangan Yang Berkelas
       Sesuai dengan aturan penerbangan bahwa komunikasi antara pilot dan ATC diatur dalam Anexxe 10 ICAO. Pengaturan komunikasi dalam kondisi normal, abnormal maupun dalam kondisi Emergency telah diatur dengan sangat jelas. Aturan ketentuan yang menjadi keharusan juga telah diatur dalam dokumen tersebut. Sehingga kemampuan komunikasi sesuai dengan aturan tersebut menjadi salah satu indicator tingkat kualitas seorang pilot. Apabila yang bersangkutan paham dan melewati fase ground school komunikasi penerbangan dengan baik, maka tidak akan terjadi kegaduhan yang tidak bermutu di jalur komunikasi yang ada.

Tips dalam berkomunikasi
  •  Kesampingkan Ego. Baik pilot maupun ATC controller adalah kelompok orang-orang yang bekerja pada bidang kerja yang memiliki tingkat stress yang tinggi. High risk and high responsibility. Bekerja pada Analisa yang bermain pada hitungan second dalam pengambilan keputusan. Sehingga hal ini terkadang membuat masing-masing pihak berkomunikasi dengan ketus dan terkadang merasa superior terhadap pihak lain. Ingat kita bekerja pada sebuah system yang saling membutuhkan dan saling melengkapi. Tugas akan terlaksana dengan optimal apabila ada rasa saling membutuhkan dan menghormati.
  •  Gunakan terminology phrase standard. Penggunaan terminologi penerbangan yang tidak standard terkadang membuat potensi emosi baik sesama pilot maupun petugas ATC. Persepsi dan asumsi dapat ditimbulkan apabila kita berkomunikasi tanpa bertatap muka secara langsung. Mungkin bermaksud bercanda, konfirmasi, menenangkan namun bisa diartikan sebuah tindakan unrespected and humiliating.
  •  Stress Management.  Ketenangan didefinisikan sebagai kemampuan diri dalam menyembunyikan rasa takut. Pada dasarnya tidak ada satupun manusia yang fearless.  Aturlah rasa stress anda dengan mengggunakan prinsip CRM (Crew resource management) secara optimal dengan sesama crew. Daripada anda menghabiskan energi melepaskan stress dengan membuat komunikasi yang tidak berkelas maka akan lebih bermanfaat untuk menggunakan sumber daya crew secara optimal dalam problem solving. Baru setelah landing dengan safe, gunakan fasilitas complain di briefing office.
  •   Be Humble and professionalHilangkan anggapan seorang pilot adalah orang paling hebat karena sejatinya mereka nothing without anybody else. ATC personel adalah comrade setia yang telah terbukti loyal kepada kita sampai dengan saat ini. Menjadi professional adalah mengembalikan segala sesuatu tindakan sesuai dengan procedure komunikasi yang telah diatur oleh ketentuan aturan Nasional maupun Internasional. Bukan sebaliknya yang menumpahkan kekesalan kepada petugas ATC dengan komunikasi yang tidak berkelas. Complain sampai dengan terkadang bicara kasar pun masih sering terdengar selama penerbangan. Tanpa mencoba menunjuk hidung, mari kita bersama berusaha untuk intropeksi diri dan berbenah diri menuju kondisi fresh healthy and comfort communication alias jangan  marah- marah diatas.

Final thought
        Pada akhirnya sampailah kita pada sebuah perenungan bahwa cara kita bersikap, bertutur kata dan berpola sikap akan menentukan seberapa tinggi capaian yang dapat kita capai. Kualitas kita sangat ditentukan oleh sikap (attitude) yang melekat pada diri kita. Semoga dengan pemahaman ini kita mampu mewujudkan nuansa dan kualitas komunikasi penerbangan di dirgantara Indonesia menjadi berkelas dan disegani dunia penerbangan Internasional.